Arch Carrying Angels

Ngobrol seputar science, quran dan hanification

Archive for Agustus, 2010

Red Shift and Blue Shift

Posted by qarrobin pada Agustus 27, 2010

Efek Doppler – Hubble <Bracket>

Pergeseran merah

Setelah kembar A menempuh perjalanan 1 tahun dengan kelajuan 0,8 c, kembar B usianya bertambah 1+2/3 tahun. Pada titik ini kembar A mengirimkan sinyal pertamanya. Kemudian kembar A melanjutkan perjalanannya. Sinyal pertama dari A tiba di B selama 1+1/3 tahun. B menerima sinyal pertama dari A ketika usianya bertambah 3 tahun = (1+2/3 tahun) + (1+1/3 tahun). Ketika B menerima sinyal pertama, usia A bertambah 1,8 tahun. Setelah usia A bertambah 2 tahun, usia B bertambah 3+1/3 tahun.

Kembar A menempuh perjalanan 1 tahun dengan kelajuan 240000 km/detik. Ketika A menempuh perjalanan 1 detik, usia B bertambah 1+2/3 detik. Jadi dengan kelajuan 0,8 c, dalam 1 detik, A dapat menempuh jarak 400000 km. Efek Relativistik pertambahan jarak yang ditempuh A identik dengan pengembangan ruang pada galaksi yang saling menjauhi, sehingga panjang gelombang pada cahaya melebar dan energinya berkurang sehingga B mendapatkan frekuensi cahaya bergeser ke arah warna merah.

Misal ketika A mengirimkan sinyal pertamanya ke arah B, pada saat yang sama A mengirimkan sinyal ke arah <Bra|. Karena sinyal ke arah B dipengaruhi oleh gerak A, maka sinyal yang dikirimkan ke arah <Bra| dibawa oleh Efek Hubble hingga tiba di |Ket>. Jika arah A kita balik menjadi mendekati B, maka B akan mendapatkan Efek Relativistik penyusutan ruang, sehingga panjang gelombang pada cahaya akan memendek identik dengan frekuensi cahaya yang dipengaruhi oleh timpaan gravitasi lubang hitam. Dalam 1+2/3 detik, B melihat cahaya menempuh jarak 100000 km dalam 1 detik. Dalam 1 detik, B melihat cahaya menempuh jarak 60000 km. Karena dalam kondisi B tidak terdapat penyusutan ruang, maka B mengalami peremajaan waktu, dan sinyal yang dikirimkan ke arah <Bra| akan tiba di <Bra|. Sesuai dengan penjelasan superposisi kuantum oleh Paul Adrien Maurice Dirac, maka foton berada di <Bra| sekaligus berada di |Ket> dan keduanya disebut <Bracket>.

Pergeseran biru

Ketika kembar A dalam perjalanan mendekati B, efek Relativistik penyusutan jarak pada sinyal yang dikirimkannya ke arah B membuat frekuensi cahaya bergeser ke arah warna biru. Efek penyusutan jarak membuat foton berada di <Bra| sekaligus berada di |Ket>.

Waktu tidak menjalar pada peristiwa semesta, karena persamaan dimensi Minkowsky bukan r^2 = x^2 + y^2 + z^2 + t^2.

Waktu menjalar pada kondisi semesta, karena persamaan Minkowsky 0 = x^2 + y^2 + z^2 – (tc)^2 merupakan persamaan dimensi. Jadi kelajuan cahaya adalah kelajuan waktu.

In Quran Ma’aarij (The Ways of Ascent):70-4: The angels and the Spirit ascend unto Him in a Day the measure whereof is (as) fifty thousand years.

r^2  = x^2 + y^2 + z^2 + (xi)^2

Kozyrev menemukan bahwa, semesta kita adalah semesta datar dengan lebar yi dan luas zi. 2 bidang imajiner ini adalah penjuru dari Superspace. Kemudian Aiberg Weisschild menemukan bahwa terdapat bidang ke-3 (the fourth dimension) yang menembus Superspace ke Hyperspace dengan 7 layer Zig-Zag.

Posted in Alam Amr, Science | 24 Comments »

Peremajaan waktu (Solusi paradoks kembar)

Posted by qarrobin pada Agustus 19, 2010

cahaya menjalar dipengaruhi oleh intensitas medan gravitasi yang berbeda-beda, jika B melihat kondisi waktu di A mengalami dilatasi waktu (nilai t berkurang, karena A terlihat melamban seperti di dalam medan gravitasi), maka A melihat kondisi waktu di B nilainya meningkat, karena B lebih cepat tua dalam kondisi waktu, maka peristiwa di B terlihat berjalan lebih cepat

namun nilai c tetap konstan
dalam kondisi A, c = 300.000 * 1 km/1 detik

dalam kondisi B, c = 300.000 * (1 + (  (1/6)*4 ) km) / (1 + (  (1/6)*4 ) detik)
c = (300.000 + 200.000) km / (1 + (  (1/6)*4 ) detik)
c = 500.000 km * 60/100 = 300.000 km / 1 detik
c = 500.000 km * 40/100 = 200.000 km / (4/6)detik

Jadi pemecahan paradoks kembar adalah :
peristiwa fisika yang dianggap sama adalah kelajuan cahaya,
sedangkan peristiwa fisika yang dialami B berbeda dengan peristiwa fisika yang dialami A
Hal ini karena waktu adalah sebuah dimensi dan sekaligus berubah-ubah, tidak tetap seperti dimensi yang lain.

Waktu sebagai dimensi :
It is a dimension: Time’s conformity with the other dimensions was verified. For example our universe has a life of 20 billion years. On the other hand our sun has 5.5 million years of life. But in mini structures like neutrinos, time shortens. For example a life of a neutron when extracted out an atom is 13 minutes. In subatomic scale, as the space gets smaller, time shortens. This is the proof that it is a dimension. Time gets longer or shorter paralel to the dimensions of space. In the huge dimensions of the universe time is considered as billion years, but in quant universes, everything starts and ends in billionth of a second. Some of the particles’ life were so short that we can’t observe them and so we define them as not particles but resonances.
Dalam percobaan paradoks kembar, waktu sebagai dimensi: kembar B bertambah usia 50 tahun setelah A pergi-pulang dengan jarak bumi-bintang 20 tahun-cahaya dan dengan kelajuan 0,8 c. Usia A bertambah lebih singkat yakni bertambah 30 tahun.

Waktu sebagai dimensi yang berubah-ubah :
Time is a variable dimension: Time is not fixed. This is explained by the hyperon quants, cosmic primaries. We can exemplify the fixture of dimensions with the unchangeability of half life of cosmic rays. In wave mechanics, half life is an unchanging physico-mathematic rule. So some particles having a life of billionth of a second must not reach our world, when starting from sun or moon. For example Eta particle is the subproduct of Sigma particle. It’s life is 0.000000000000001 of a second. But it can be observed in the world. This can be only explained by the rejuvenation of time in relativity. Although it’s life is a mathematical fact, and fixed, the one changing is only TIME. Changing thing is the time on the space.
Dalam percobaan paradoks kembar, waktu sebagai dimensi yang berubah-ubah: Karena efek relativitas, cahaya yang dipancarkan A ke B melambat menjadi 1/3 c. Tapi B tidak mengamati efek relativitas, yang B amati adalah efek Doppler. Hal ini hanya dapat dijelaskan dengan peremajaan waktu di dalam relativitas, karena waktu dalam kondisi B lebih 2/3 dari A, maka B mengamati 1/3 c + 2/3 c = c. Meskipun waktu dalam kondisi yang dialami photon adalah sebuah fakta matematika, and konstan, satu-satunya hal yang berubah hanya lah WAKTU. Pengubah sesuatu adalah waktu pada ruang.

nilai c tetap konstan karena pertambahan pada jarak sama dengan pertambahan pada waktu.
Pada B terdapat peremajaan waktu 2/3 c.

rumus minkowsky bukan r^2 = x^2+y^2+z^2+t^2

waktu tidak menjalar di dalam peristiwa semesta, namun waktu menjalar di dalam kondisi semesta
sehingga rumus minkowsky r = √(x^2+y^2+z^2) = √(xi^2)
r^2 = x^2+y^2+z^2 = xi^2
r^2 = x^2+y^2+z^2+(xi)^2
r^2 = x^2+y^2+z^2+(i^2 x^2)
0 = x^2+y^2+z^2 – (ct)^2
0 = x^2+y^2+z^2 – c^2t^2

dimensi panjang x pada kondisi imajiner menjadi dimensi waktu t pada kondisi ruang konkret.
Dan t melaju dengan kelajuan cahaya pada kondisi ruang konkret.

Kita sering salah mengartikan persamaan minkowsky dengan cahaya melaju dalam satu detik.
Padahal persamaan minkowsky adalah persamaan dimensi, jadi waktu adalah sumber gerak dari ruang konkret.

Time flows in different speeds in different regions of space and time also flows in different speeds at the beginning and end of an event. The one changing is not the space but the flow of time. In Kuran Mearic (The Ways of Ascent):70-4: The angels and the Spirit ascend unto Him in a Day the measure whereof is (as) fifty thousand years. Relativity is lived not in events, but in the conditions of the universe. Time is not a calendar. Time is an arrangement on the rail of physical effects’ changeability. Rail is fixed but the speed of the train changes. Train gets its dynamism from time. Our creative reserve called stimulus enters our universe with gravitation, magnetism, nuclear forces, and time force energy to quant region. Time is at the same time energy. A heavy object when sinking in the space, distorts not only the space but also time. So light gets late with the gravitational effect, it’s road bends, gets long and it looses time.

Posted in Alam Amr, Science | 9 Comments »

Minkowsky menemukan persamaan dimensi tachyon

Posted by qarrobin pada Agustus 9, 2010

Sekarang pada Thaariq, Samaa- adalah satu langit. Dalam Quran yang 7 langit itu dalam bentuk Samaawaat, Maksudku ia jamak. Tetapi jika ini tunggal seperti di sini, kita harus memikirkannya. Mengapa ia singular? Ini berarti, yang 7 langit dan konsep ruang-waktu menghilang. Ini dapat dimungkinkan dalam berbagai cara.

Sampai saat ini kami beritahu tentang ‘Wa’ dalam surah Thaariq. Kami datang dengan konsep ‘samaa-‘. Kita dihadapkan dengan Sidrah, Kerrubis dsb dan masih banyak lagi.

Wa SAMAA- (langit), karena langit adalah singular. Terdapat 7 langit dan bumi semisalnya, sebagai gantinya ada satu langit. Ini adalah langit yang dicapai pada kecepatan cahaya. Tujuan kita adalah apa yang terjadi ketika kita mencapai kelajuan-cahaya. Pada Sidrah al Müntaha (pohon cedar terakhir = tempat Jibril) semua ruang (luas, lebar, tinggi) berakhir. Sebaliknya dari semua dimensi kosmos satu langit muncul. Mari kita mendefinisikan langit ini. Mendekati kelajuan-cahaya, ada ruang yang terdiri dari tiga koordinat seperti x, y, z. Tetapi di lightspeed, tiga hal yang aneh terjadi:

1.Ruang menghilang. Ruang menjadi satu dimensi dan ini disebut sebagai singularity.

2.Lightspeed = Ini merupakan kecepatan dari aliran-waktu. Akibatnya waktu juga menghilang.

3.Ketika ruang dan waktu menghilang, seluruh kosmos nampak ‘secara nyata’. Makna dari nampak secara keseluruhan dan nyata adalah ini: Kosmos adalah sebuah hologram.

Satu quanta menunjukkan seluruh kosmos, ia menganimasinya lagi. Pikirkan dirimu sebagai photon. Aku berkata photon, karena ia bahkan tidak memperlambat kecepatan atau mempercepat. Lightspeed melaju persis di kecepatan C. Biarlah setiap orang yang bergabung dengan obrolan ini menjadi photon. (Keadaan jiwa murni adalah ini.) Setiap orang berjalan dengan kecepatan yang sama. Mereka melaju, tapi ini berarti semua orang berhenti. Karena setiap orang mengalir dengan kecepatan yang sama. (Seperti sepuluh orang yang duduk diam.) Sesungguhnya, kita maju misal dengan guncangan 29,5 km / detik kecepatan angguk kepala dalam ruang. Tetapi seperti anda lihat, semua orang duduk di tempat mereka. Jika sesuatu yang tidak bergerak, tidak dapat ditentukan bahwa Anda bergerak. Untuk memahami bis mana yang mulai lanjut, Anda pasti melihat bis yang berhenti. (acuan tetap) kelajuan cahaya adalah kecepatan tertinggi, materi tentu saja lebih lambat dari itu. Mari kita berpikir tentang diri kita sebagai photon yang berangkat dari matahari dan yang mana perjalanannya menuju bumi. Matahari pergi menjauh dari kita dengan kelajuan cahaya dan bumi yang kita jelang datang mendekat kepada kita dengan kelajuan cahaya. Kita seolah-olah berhenti, penggaris yang di bawah kita yang bergerak. Sementara satu ujung penggaris sedang menjauh dari kita, yang lain menjelang kepada kita. Jika kita adalah photon, kita akan melihat bahwa kita tidak bergerak, tetapi ruang melanjut maju (advancing of space). Sebuah photon mengatakan ‘Saya berhenti, ruang menjelang maju’. Materi berkata ‘Tidak, foton menjauh dari kami / datang mendekat kepada kami, orang yang tetap-diam adalah kami’. Siapakah yang benar? Para pengamat selalu benar. Siapa yang mengamati bagian sistem, ia adalah benar. Akibatnya, dalam teori relativitas, semua pengamat adalah benar.

Mi’raj adalah diawali sebuah perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem sebagai ke-menjelang-an ruang, kemudian perjalanan vertikal ke hadirat Allah. Mari kita tunda ini. Terdapat formula ruang-waktu. Hal ini kira-kira ini: x, y, z adalah ruang kita. Pencitraannya di cermin adalah imajiner Xi, Yi, Zi. Hal ini menjadikan 6 dimensi. Karena sebuah dimensi imajiner yang kita ambil dari sisi lain adalah misalnya Xi = square root (-1), menembus ke kita sebagai waktu. Minkowsky menemukannya dan membuktikan ini. Satu square root (-1) dari sisi lain mempengaruhi kita sebagai waktu. Maksudku, Anda tidak dapat mengukurnya, anda tidak dapat berkata m2, Anda hanya melihat jam Anda. Jika sebuah meter yang kita tahu (biarkan menjadi penggaris) bergerak di lightspeed, panjangnya akan memendek dan akan menjadi titik. Jika bergerak lebih cepat dari cahaya, panjangnya akan menjadi negatif. Maksudku, meterannya di sini akan menjadi jam disana. Jam yang disana, menjadi meter disini yang kita tahu. Karena bahkan Einstein memberi petunjuk. Sumber cahaya dapat bergerak lebih cepat dari cahaya, bahkan jika sumber bergerak, cahaya itu sendiri bergerak dengan kecepatan tetap. Maksudku, photon adalah mati di lightspeed, tetapi tachyon (ruwh) atau radiasi ilahi (nuwr) dari mana photon muncul, melaju lebih cepat dari cahaya. Halangan lightspeed adalah dinamai larangan yang dibawa ke lightspeed. Kita atau lampu (sumber) yang berjalan lebih cepat dari cahaya tidaklah dilarang.

Samaa- adalah munculnya satu langit bukan 7 langit dan bumi semisalnya, ketika dimensi hilang, bila Anda mencapai lightspeed. Apabila kita mengatakan langit (ruang-waktu) yang kita maksudkan adalah fakta-fakta yang mana adalah lebih lambat dari cahaya. Jika Anda bergerak di lightspeed, urusan berubah dan Anda menjadi photon satu dimensi. Ruang dari satu dimensi photon adalah aneh, tidak ada lebar, luas dan tinggi. Jadi apa yang ada? Gray nullity. Mengapa? Kita dapat memahami ini dari ayat. Ayat yang mengatakan ‘wassamaa-’ kepada satu langit dan Thaariq. Apakah tahu engkau apa Thaariq? Ia adalah bintang yang melubangi. Ia mengatakan ‘bintang’. Sekarang mari kita membuat ini jelas. Kita semua adalah foton dan kita berpindah dengan kelajuan-cahaya. Akibatnya, semua orang adalah diam-relatif satu sama lain. Tetapi ada masalah besar. Kita bergerak dengan lightspeed. Maksudku, bagi saya untuk memahami bahwa ada orang di dekat saya, sinyal cahaya harus datang menghampiri saya. Atau bagi saya untuk berjabat tangan, saya harus mengulurkan tangan saya. Tetapi memberikan tanganku berarti melebihi lightspeed. Ini adalah dilarang. Kemudian kita semua tidak menyadari satu sama lainnya. Maksudku, kita sendiri di langit yang sangat besar. Dan kita adalah photon. Setiap orang dari kita bersinar untuk diri sendiri. Kita lihat bahwa hanya diri kita sendiri bersinar untuk diri kita. Semuanya yang tersisa adalah gelap dan abu-abu … Terdapat ketidaksahan abu-abu, hanya ada saya dan saya hanya bersinar untuk diri sendiri. Hanya untuk diri saya sendiri … An najmul tsaaqıb = salah satu yang bersinar untuk dirinya sendiri.

Posted in Alam Amr, Science | 2 Comments »

Efek Doppler, Relativistik dan Probabilitas

Posted by qarrobin pada Agustus 9, 2010

Efek Doppler cahaya digunakan untuk menghitung selang periode sinyal dan berapa jumlah sinyal diterima, efek ini dihitung berdasarkan sinyal yang tidak dipengaruhi oleh gerak pengamat.

Efek Relativitas cahaya adalah efek yang dipengaruhi oleh gerak pengamat. Kembar A dengan kelajuan 0,8 c yakni v = 240.000 km/s dapat menempuh 400.000 km (kerangka B) dalam satu detik (kerangka A). Dalam kerangka B di bumi, cahaya menempuh 300.000 km/s. Karena dalam kerangka A mengalami dilatasi waktu, menurut kembar A, 1 detik cahaya (300.000 km/s) dalam kerangka kembar B, baru menempuh 0,6 detik cahaya dalam kerangka A. Jadi 1 detik cahaya dalam kerangka A sama dengan 1 + 2/3 detik cahaya (500.000 km/s) dalam kerangka kembar B.

Jika kembar A memancarkan sinyal ke arah depan, akan terjadi seperti Efek Gravitasi, karena Efek Relativistik dari gerak A. Kelajuan cahaya melambat menjadi 20% dari 300.000 km/s (dalam kerangka A) sama dengan 60.000 km/s.

Jika kembar A memancarkan sinyal ke arah belakang (ke kembar B yang berada di bumi). Menurut Efek Doppler yang tidak dipengaruhi oleh gerak pengamat, sinyal tiba di B menempuh jarak selama 1 + 1/3 tahun cahaya. Menurut Efek Relativistik yang dipengaruhi gerak pengamat B yang menjauhi kembar A, akan terjadi seperti Efek Inflasi dari pengamat B sejauh 2/3 tahun cahaya.

Jika kita gabungkan Efek Doppler dan Efek Relativistik, akan kita dapatkan Efek Probabilitas dari cahaya.

Posted in Science | 4 Comments »

Paradoks Kembar

Posted by qarrobin pada Agustus 2, 2010

Saya akan membahas paradox kembar pada buku Konsep Fisika Modern edisi keempat, 1999 Penerbit Erlangga, ditulis oleh Arthur Beiser, alih bahasa DR. The Houw Liong pada bab 1.5 halaman 17 sampai dengan 19.

Si kembar A pergi ketika ia berumur 20 tahun dan mengembara dengan kelajuan v = 0,8 c. ke suatu bintang berjarak 20 tahun-cahaya, kemudian ia kembali ke bumi (satu tahun-cahaya sama dengan jarak yang di tempuh cahaya dalam satu tahun dalam ruang hampa. Jarak itu sama dengan 9,46 x 10^15 m). Terhadap saudara kembarnya B yang berada di bumi, A kelihatannya hidup lebih lambat selama perjalanan itu, kelajuannya hanya

√( 1 – (v^2/c^2) ) = √( 1 – ((0,8 c)^2/c^2) ) = √( 1 – (8^2/10^2) ) = √( 1 – (0,64) )

= √( 36/100 ) = 6/10 = 60 persen

dari B. Untuk setiap tarikan nafas yang diambil A, B mengambil 1 + (  (1/6)*4 ) = 1 + (2/3) kali; untuk setiap suap A makan, B maka 1 + (2/3) nya; untuk setiap hal A berpikir, B berpikir 1 + (2/3) nya.

Akhirnya, setelah 50 tahun berlalu menurut perhitungan B (t = 2 L /v = 2 * 20 tahun-cahaya / 0,8 = 400/8 = 50 tahun), A kembali dari perjalanan yang mengambil waktu 60 persennya, sehingga A telah meninggalkan bumi t = (60/100) * 50 tahun = 30 tahun lamanya dan ia kini berumur 50 tahun, sedangkan B berumur 70 tahun.

Menurut perhitungan B, perjalanan A pergi-pulang 50 tahun, berarti perjalanan A pergi ke bintang t = 50 tahun / 2 = 25 tahun.

Menurut perhitungan A, perjalanannya pergi-pulang t = (60/100) * 50 tahun = 30 tahun. Berarti perjalanannya pergi ke bintang t = 30 tahun / 2 = 15 tahun.

Dimanakah letak paradoxnya? Jika kita periksa situasinya dari pandangan A yang berada dalam roket, B dan kerangka acuan di luar roket berada dalam keadaan gerak (misal pengamat di titik C dan titik D) dengan kelajuan 0,8 c. Jadi kita bisa mengharapkan B berumur 50 tahun ketika roket kembali ke bumi, sedangkan A berumur 70 tahun – hasil yang sebaliknya dari yang kita simpulkan di atas.

Untuk memecahkan paradox ini, buku yang ditulis oleh Arthur Beiser dan dialihbahasakan oleh DR. The Houw Liong ini pada halaman 18 menjawab bahwa kembar A, harus berubah dari satu kerangka inersial ke kerangka inersial lain ketika A membalik arah roketnya, sehingga pemakaian rumus relativitas itu oleh A hanya sah ketika dalam perjalanan menjauhi B.

Menurut saya jawaban ini salah, karena ketika A membalik arah roketnya pulang ke bumi dengan kelajuan yang sama, A yang berada dalam roket tetap melihat B dan kerangka acuan di luar roket berada dalam keadaan gerak dengan kelajuan 0,8 c mendekati dirinya. Jawaban buku ini tidak dapat memecahkan paradox kembar ini.

Menurut saya bahwa ketika kembar A melaju 0,8 c. dimana terjadi pengerutan jarak Lorentz ke bintang L = 20 tahun-cahaya * (60/100) = 12 tahun-cahaya. Keadaan ini identik dengan suatu keadaan di dalam medan gravitasi dengan kelajuan lepas 0,8 c. Di dalam medan gravitasi ini, kembar A akan melihat keadaan di luar roket melaju lebih cepat 40 persen dari dirinya t = 30 tahun + (  (30/6)*4 ) = 50 tahun. Jadi kembar B akan lebih tua ketika ia kembali ke bumi.

Dilihat dari dalam roket, maka cahaya yang melaju di luar roket akan melaju 40 persen lebih cepat. Ini karena kelajuan cahaya kelihatan berubah-ubah dengan intensitas medan gravitasi. Ketika A kembali ke bumi, roket pun mengurangi kelajuan. A mendapati bahwa pada kerangka acuan B, jarak antara bumi dan bintang memanjang 40 persen L = 12 tahun-cahaya + ( (12/6)*4 ) = 20 tahun-cahaya. Keadaan ini identik dengan teori gravitasi. Ketika interaksi gravitasi bumi-bulan berkurang, jarak pun bertambah, rotasi bumi melamban, waktu bertambah.

Sekarang kita bayangkan masing-masing orang kembar itu mengirimkan sinyal radio satu kali setiap tahun selama perjalanan tersebut, sehingga mereka dapat menurut proses bertambah tuanya masing-masing. Dalam perjalanan ke bintang, A dan B terpisah dengan kelajuan v = 0,8 c, dan dengan pertolongan penalaran yang dipakai untuk menganalisis efek Doppler kita dapatkan bahwa A menerima sinyal T = t √ (1 + 0,8c/c) / (1 – 0,8c/c) = 1 tahun √ (1,8/0,2) = 3 tahun periodenya. Dalam perjalanan pulang, A dan B saling mendekati dengan kelajuan yang sama. A menerima sinyal lebih sering T = t √ (1 – 0,8c/c) / (1 + 0,8c/c) = 1 tahun √ (0,2/1,8) = 1/3 tahun periodenya.

Dalam waktu 15 tahun (menurut perhitungan A) dalam perjalanan ke bintang, A menerima 15 tahun / 3 tahun periode = 5 sinyal dari saudaranya B. Dalam 15 tahun perjalanan kembalinya, A menerima 15 tahun / (1/3) tahun periode = 45 sinyal dari B.

Perlu ditegaskan bahwa dalam perjalanan ke bintang A menerima 5 sinyal, bukan berarti usia B bertambah 5 tahun. Ini karena A melihat sinyal yang dipancarkan B dipengaruhi oleh gerak B yang menjauhi A. Jadi A baru menerima 5 sinyal dari 25 sinyal yang dikirimkan oleh B. Keadaan ini seperti mengembangnya ruang antar galaksi. Begitupun ketika A kembali ke bumi menerima 45 sinyal, bukan berarti usia B bertambah 45 tahun. Ini karena sisa 20 sinyal ditambah 25 sinyal yang dikirimkan.

Bagaimana dengan sinyal yang dikirim A? Dalam kerangka B, saudaranya memerlukan waktu t = L /v = 20 tahun-cahaya / 0,8 c = 200/8 = 25 tahun untuk perjalanan ke bintang. Karena bintang itu jauhnya 20 tahun cahaya, B terus menerima sinyal A dengan kelajuan satu kali setiap 3 tahun untuk 20 tahun lamanya sehingga A sampai ke bintang itu. Jadi, B menerima sinyal dengan selang waktu 3 tahun selama 25 + 20 = 45 tahun, sehingga jumlahnya 45/3 = 15 sinyal. Kemudian untuk sisa 5 tahun dalam perjalanan yang memakan waktu 50 tahun menurut B, sinyal tersebut datang dalam selang waktu yang pendek 1/3 tahun, sehingga jumlah sinyalnya 5 / (1/3) = 15 sinyal.

Kesimpulannya yakni :

A melihat sinyal yang dikirimkan B dipengaruhi oleh gerak B yang menjauhi dan mendekati A.

B melihat sinyal yang dikirimkan A tidak dipengaruhi oleh gerak A yang menjauhi dan mendekati B.

Sekarang jika A mengirimkan sinyal ketika melintas pada titik C. Maka B juga melihat sinyal yang dikirimkan A ketika melintas pada titik C, tidak dipengaruhi oleh gerak A yang menjauhi B, sehingga B melihat sinyal yang dikirimkan tiba pada titik C.

Karena A melihat B menjauhi, maka A juga melihat titik C menjauhi, sehingga A melihat sinyal yang dikirimkannya ketika melintas pada titik C, tidak tiba di titik C, namun tiba di titik D.

Ini adalah seperti-garis dan seperti-ruang. Jadi foton adalah seperti-partikel sekaligus seperti-gelombang.

Posted in Science | 15 Comments »