Arch Carrying Angels

Ngobrol seputar science, quran dan hanification

Teori Gravitasi Kuantum

Posted by qarrobin pada Oktober 17, 2010

Posisi pengamat B,D,C danE berada dalam kerangka acuan diam. Pengamat B melihat foton yang dipancarkan D ke B menempuh jarak 500.000 km dalam 1+2/3 detik. Pengamat B melihat foton yang dipancarkan C ke E menempuh jarak 500.000 km dalam 1+2/3 detik.

Pengamat A berada dalam kerangka acuan bergerak dari posisi D ke posisi C sembari memancarkan foton. Dalam satu detik (kerangka acuan A yang bergerak dan berubah posisi), foton yang dipancarkan A tiba di B.

Setelah foton tiba di B, maka B melihat pengamat A berada di posisi C. Jika A merupakan pengamat yang diam pada posisi C, seharusnya B melihat foton tiba di E. Karena A mengalami perubahan posisi, maka B melihat posisi awal foton dipancarkan dari posisi C. Berarti B melihat foton yang dipancarkan A dari posisi C menempuh jarak 100.000 km dalam 1+2/3 detik (menurut kerangka acuan B yang diam).

Jadi B melihat foton menempuh jarak 60.000 km dalam 1 detik. Berubahnya kelajuan foton ini karena perbedaan waktu pada kerangka acuan diam dan kerangka acuan yang bergerak.

Jika B menghitung frekuensi foton berdasarkan waktu yang melaju pada kerangka acuan B yang diam, maka B tidak mendapatkan pertambahan energi pada foton.

Kalo demikian, hal yang sama dapat kita terapkan pada massa dari A pada kerangka acuan yang bergerak dan mengalami perubahan posisi.

Jika B menghitung massa A berdasarkan waktu yang melaju pada kerangka acuan B yang diam, maka B tidak mendapatkan pertambahan massa pada A.

Konsekuensinya, karena tidak ada pertambahan massa pada A, maka A dapat membuat pesawatnya melaju pada kecepatan cahaya dengan menambah energi pada pesawat.

Jika kelajuan cahaya tidak dipengaruhi oleh gerak A (berarti A dapat memandang kerangka acuannya sebagai diam), dan A dapat memandang B bergerak mendekati A.

Dalam satu detik, A berada pada posisi C. Jika A merasa tidak ada perubahan kelajuan waktu (berarti kelajuan foton tidak berubah), maka foton yang dipancarkan A akan tiba di E dalam satu detik.

Kenyataannya dalam satu detik, A melihat foton seperti berada di dalam medan gravitasi (berarti ruang menyusut dan kelajuan waktu melambat), A melihat kelajuan foton seperti melambat, dan dalam satu detik foton tiba di B.

Sebaliknya, B dapat menganalogikan A yang bergerak mendekatinya, seperti A berada di dalam medan gravitasi (superposisi dari dua posisi awal foton), dimana ruang menyusut (dari posisi akhir foton di E ke posisi akhir foton di B), dan kelajuan waktu melambat sehingga B melihat kelajuan foton melambat. Karena ketika foton tiba di B, maka B melihat posisi awal foton yang dipancarkan A berada pada posisi C, dan B benar-benar melihat pergeseran biru, memendeknya panjang gelombang foton.

Jika kelajuan waktu tidak melambat, maka B seharusnya tidak mendapati pergeseran biru.

Teori Relativitas Umum menyatakan bahwa kelajuan cahaya terlihat berubah tergantung pada intensitas medan gravitasi yang dilaluinya.

Jika B melihat efek pergeseran biru pada foton yang tiba padanya, maka B melihat dua posisi awal foton ketika dipancarkan oleh A. Dengan melihat posisi awal foton pada posisi akhir A ketika foton tiba di B, maka B dapat menghitung kelajuan A.

Pada medan gravitasi terdapat penyusutan ruang. Karena B mendapatkan dua posisi awal foton, maka kelajuan A membuat dua posisi awal foton bersuperposisi dan terlihat seperti penyusutan ruang.

Jadi kelajuan A dapat dipandang sebagai medan gravitasi. Pada teori gravitasi, selain terjadi penyusutan ruang, juga terjadi melambatnya waktu. A juga dapat memandang dirinya berada pada medan gravitasi.

A melihat cahaya yang dipancarkannya ke B melaju dengan lambat, jadi penyusutan ruang dibarengi dengan melambatnya waktu.

A melihat dalam satu detik, frekuensi foton bertambah. Efek pertambahan frekuensi ini dikarenakan melambatnya waktu, bukan berarti frekuensi foton benar-benar bertambah. Ruang yang menyusut membuat wave length dari frekuensi memendek.

Efek ini terjadi karena kelajuan pada A. A dapat mengetahui bahwa kerangka acuannya lah yang bergerak, karena jika B yang bergerak mendekati A dan A berada pada kerangka yang diam, maka seharusnya foton tiba di B lebih awal yakni 1/3 detik.

Jika A memandang bahwa kerangka acuannya lah yang bergerak, dan kerangka acuan B yang diam, maka A dapat mengukur jarak yang dilalui foton dari posisi awal ketika foton dipancarkan dan posisi akhir foton ketika tiba di B dan menghitung waktu yang mengalir pada B. Sehingga pada kerangka acuan B yang diam, foton menempuh jarak 500.000 km dalam 1+2/3 detik. Berarti tidak terdapat penambahan frekuensi.

Pada kerangka acuan yang diam, waktu membawa foton melaju pada kecepatan cahaya. Pada kerangka acuan yang bergerak, waktu melaju lebih lambat seperti berada pada medan gravitasi.

Dalam satu detik, A dapat menempuh jarak 400.000 km. A dapat melihat perbandingan jarak yang ditempuhnya dengan jarak yang ditempuh cahaya. 60 persen dari 400.000 km sama dengan 240.000 km. 60 persen dari 500.000 km sama dengan 300.000 km. Ketika A melaju dengan kecepatan 0,8 c, A seperti mengejar kelajuan cahaya.

A dapat melihat bahwa sebenarnya tidak terdapat pertambahan frekuensi pada foton, yang berarti bahwa tidak terdapat pertambahan energi pada foton.

A juga dapat memandang bahwa tidak terjadi pertambahan massa pada pesawatnya. Kelajuan pesawat sebesar 0,8 c, tidak membuat pertambahan massa pada kerangka yang bergerak. Efek pertambahan energi dan pertambahan massa pesawat dikarenakan menyusutnya ruang dan melambatnya waktu pada kerangka A sehingga terlihat seperti bertambah.

Berarti A dapat membuat pesawatnya melaju pada kecepatan cahaya, tanpa harus terbebani oleh pertambahan massa.

Jika pesawat A melaju pada kecepatan cahaya, maka waktu berhenti, sebagaimana cahaya terperangkap dalam medan gravitasi lubang hitam, pesawat yang melaju pada kecepatan cahaya berarti melubangi ruang-waktu.

A sekarang memasuki dimensi titik Hilbert pada Superspace Wheeler. Pada dimensi ini berlaku teori medan kuantum. A seperti berada di dalam event horizon lubang hitam, yang kita sebut black point.

Setiap titik di dalam ruang lubang hitam dapat kita pandang sebagai paket gelombang h/2π yang memiliki banyak probabilitas posisi, yang mana setiap posisi memiliki fase yang dapat saling berinterferensi 2πx/λ. Setiap fase dapat kita anggap sebagai titik x pada bidang y dan z.

Iklan

4 Tanggapan to “Teori Gravitasi Kuantum”

  1. […] Teori Gravitasi Kuantum […]

  2. akhmad said

    mantapppp

  3. seifan said

    well done…tapi kurang tertata…

  4. Berhenti menyalahkan masa lalu cobalah tuk menerimanya dan memahami bahwa ia telah jadikanmu pribadi yg lebih kuat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: