Arch Carrying Angels

Ngobrol seputar science, quran dan hanification

Massa Kelajuan sama dengan massa gravitasi

Posted by qarrobin pada November 29, 2010

Pengamat A berdiri di depan jendela mobil bis yang melaju lurus pada vector v dengan kelajuan tetap 3m/s. Misal intensitas gravitasi pada vector g adalah 4m/s^2. Kemudian pengamat A melepaskan sebutir batu dengan massa misal 6 gr ke  tepi jalan raya, tanpa melemparkannya. Maka dengan mengabaikan pengaruh hambatan udara, A melihat batu itu jatuh secara lurus pada vector g. Jika tidak ada intensitas gravitasi, maka batu tidak akan jatuh ke tanah, namun akan melaju lurus pada vector v dengan kelajuan tetap 3m/s. Kita akan menyebut “gerak batu relatif terhadap vector v” dengan line-like.

Pengamat B yang berdiri di tepi jalan raya melihat batu itu jatuh ke tanah dalam garis diagonal pada vector r. Kita akan menyebut “gerak batu relatif terhadap intensitas gravitasi” dengan space-like.

Pengamat B melihat, relatif terhadap intensitas gravitasi, batu menempuh jarak 5 m pada vector r dalam 1 detik dengan kelajuan tetap 3m/s.

Sekarang kita andaikan mobil bis diam, dan kita andaikan bahwa tidak ada intensitas gravitasi, kemudian pengamat A melemparkan batu pada vector r dengan kelajuan 3m/s, maka batu akan menempuh jarak 5m pada vector r dalam 1+2/3 detik, atau batu menempuh jarak 3m pada vector r dalam 1 detik.

Sekarang kita andaikan mobil bis melaju lurus pada vector v dengan kelajuan tetap 3m/s, dan kita andaikan bahwa tidak ada intensitas gravitasi, kemudian pengamat A melepaskan batu tanpa melemparkannya, maka batu akan menempuh jarak 3 m pada vector v dalam 1 detik.

Sekarang kita andaikan mobil bis melaju lurus pada vector v dengan kelajuan tetap 3m/s, dan kita andaikan bahwa ada intensitas gravitasi 4m/s^2 pada vector g, kemudian pengamat A melepaskan batu tanpa melemparkannya, maka batu akan menempuh jarak 5 m pada vector r dalam 1 detik dengan kelajuan 3m/s.

Relatif terhadap intensitas gravitasi, pengamat B juga melihat kelajuan batu 3m/s tidak berubah pada vector r, dan batu menempuh jarak 5 m dalam 1 detik.

Jadi kelajuan batu tidak berubah ketika berada di dalam intensitas gravitasi, dan kita sebut vector g sebagai space-like. Intensitas gravitasi membuat penyusutan waktu dari 1+2/3 detik menjadi 1 detik. Intensitas gravitasi juga membuat penyusutan jarak dari 5m menjadi 3m. Karena kelajuan batu tidak berubah, maka massa batu 6 gr juga tidak berubah.

Massa gravitasi sama dengan massa diam.

Relatif terhadap batu, dalam system koordinat batu, vector g yang diciptakan oleh intensitas gravitasi dapat kita anggap tidak ada (hollow), karena kelajuan batu tetap tidak berubah baik terhadap vector v maupun terhadap vector r. Begitupun vector g pada ruang semesta kita merupakan kedalaman hollow relatif pada bidang datar Superspace.

Karena kita berada pada kedalaman hollow ruang vector g, kita melihat probabilitas posisi dari partikel kuantum. Jika kita mendapatkan gambaran partikel, gambaran itu merupakan superposisi dari amplitude fase.

Sekarang kita ubah batu pada vector v tadi menjadi foton pada vector c, dan agar tampak sederhana, kita pangkas 300.000.000 m/s menjadi 3 m/s. Kita ubah juga intensitas gravitasi pada vector g menjadi kelajuan pesawat 2,4m/s pada vector s 4m. Jika vector s diteruskan, maka akan menjadi vector r yang orthogonal (searah) dengan vector s 5m yang ditempuh foton dalam 1 detik dengan kelajuan 3m/s.

Sebuah pesawat dengan massa misal 600 kg meninggalkan bumi dengan kelajuan 2,4m/s dan menempuh 4m pada vector s dalam 1 detik.

Sekarang kita andaikan pengamat A di dalam pesawat melepaskan sinyal foton pada arah vector c. Pengamat A akan melihat foton yang dilepaskannya merambat secara lurus pada vector c dengan kelajuan 3m/s. Kita akan menyebut “gerak foton relatif terhadap vector c” dengan line-like.

Pengamat B di bumi, relatif terhadap intensitas kelajuan pesawat, melihat foton merambat dalam garis diagonal pada vector r dengan kelajuan yang tetap 3m/s dan menempuh 5m vector r dalam 1 detik. Sebagaimana kelajuan foton tidak berubah pada vector r, maka kelajuan pesawat juga tidak berubah pada vector s. Karena kelajuan pesawat tidak berubah, maka massa pesawat 600 kg juga tidak berubah.

Massa kelajuan invariant terhadap pengamat. Massa kelajuan sama dengan massa gravitasi.

Massa gravitasi sama dengan massa diam.

Jadi kelajuan pesawat tidak berubah ketika berada di dalam intensitas kelajuan, dan kita sebut vector s sebagai space-like. Intensitas kelajuan membuat penyusutan waktu dari 1+2/3 detik menjadi 1 detik. Intensitas kelajuan juga membuat penyusutan jarak dari 5m menjadi 3m. Intensitas kelajuan juga membuat penyusutan jarak dari 4m menjadi 2,4m.

Sekarang kita andaikan pesawat masih di bumi, kemudian pengamat A melepaskan sinyal foton pada vector r dengan kelajuan 3m/s, maka foton akan menempuh jarak 5m pada vector r dalam 1+2/3 detik dengan posisi awal foton dimulai dari bumi, atau foton menempuh jarak 3m pada vector r dalam 1 detik.

Sekarang kita andaikan pesawat masih di bumi, kemudian pengamat A melepaskan sinyal foton pada vector r yang orthogonal (searah) dengan vector s dengan kelajuan 3m/s, maka foton akan menempuh jarak 5m pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s dalam 1+2/3 detik dengan posisi awal foton dimulai dari bumi, atau foton menempuh jarak 3m pada vector r yang orthogonal (searah) dengan vector s dalam 1 detik dengan posisi awal foton dimulai dari bumi.

Sekarang kita andaikan pesawat beranjak dari bumi pada vector s dengan kelajuan 2,4 m/s, kemudian pengamat A melepaskan foton pada vector r yang orthogonal (searah) dengan vector s, maka foton akan menempuh jarak 5m pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s dalam 1 detik dengan kelajuan 3m/s dengan posisi awal foton dimulai dari bumi.

Setelah pesawat menempuh vector s dalam satu detik, pengamat A melihat foton pada vector c merambat pada garis lurus dengan kelajuan 3m/s, ini berarti posisi awal foton mengikuti kelajuan pesawat.

Begitupun setelah pesawat menempuh vector s dalam satu detik, pengamat A melihat posisi awal foton pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s mengikuti kelajuan pesawat. Sehingga pengamat A melihat foton pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s menempuh jarak 1m dalam 1 detik dengan posisi awal foton dimulai dari posisi akhir vector s.

Relatif terhadap posisi akhir vector s, dalam system koordinat pesawat, vector s yang diciptakan oleh intensitas kelajuan pesawat dapat kita anggap tidak ada (hollow), karena intensitas kelajuan pesawat dapat kita setarakan dengan intensitas gravitasi. Kita akan menyebut “gerak foton relatif terhadap intensitas kelajuan pesawat” dengan space-like.

Relatif terhadap intensitas gravitasi, jika pengamat A menganggap pesawatnya diam relatif terhadap intensitas gravitasi maka pengamat A melihat foton pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s merambat dengan kelajuan 1 m/s. Semakin kelajuan pesawat meningkat, semakin intensitas gravitasi meningkat dan semakin kelajuan cahaya menurun. Ketika v pesawat setara dengan c, maka tak ada foton pada vector r orthogonal (searah) dengan vector s terpancar dari pesawat ke ruang semesta kita, atau pesawat memasuki bidang datar Superspace dan terpantulkan mundur ke masa lalu. Elektron dengan kelajuan tinggi jika bertumbukan dengan foton, dapat menjadi pasangan foton dan positron yang spin nya mundur.

Ketika v pesawat setara dengan c, vector s akan menyusut menjadi dimensi titik. Ketika v pesawat setara dengan c, foton masih dapat terpancar pada vector c.

Ketika v pesawat setara dengan c, posisi awal foton pada awal vector s bersuperposisi dengan posisi awal foton pada akhir vector s.

Pada vector c, superposisi keadaan (state) foton diteruskan pada polarisasi fraksi sin^2a dan foton terpancar pada vector c. Pada vector v yang kelajuannya setara dengan vector c, superposisi keadaan (state) foton diserap pada polarisasi fraksi cos^2a, dan tidak ada foton terpancar pada vector s.

Menurut prediksi elektrodinamika klasik, polarisasi akan memecah amplitude panjang gelombang menjadi 2 fase, sebagian fase (energi) ke fraksi sin^2a, dan sebagian fase (energi) ke fraksi cos^2a. Namun observasi keadaan (state) foton tetap memberikan keseluruhan fase (energi) amplitude panjang gelombang pada polarisasi fraksi sin^2a, sedangkan pada polarisasi fraksi cos^2a tidak ada foton terpancar.

Andaikan kita memiliki sebuah sorot cahaya melewati sebuah kristal tourmaline, foton yang diserap oleh electron kristal akan mengalami polarisasi. Jika polarisasi foton berpotongan (tegak lurus) terhadap optic axis (vector s), foton akan diteruskan pada vector c, namun kita tetap mendapatkan keseluruhan fase (energi) foton pada polarisasi perpendicular (fraksi sin^2a). Jika polarisasi foton parallel (orthogonal) terhadap optic axis (vector s), tak ada foton terpancar.

Relatif terhadap superposisi keadaan (state) vector c, dalam system koordinat foton, vector g yang diciptakan oleh intensitas medan gravitasi dapat kita anggap tidak ada (hollow), karena observasi keadaan (state) foton tetap memberikan keseluruhan fase (energi) meski mengalami polarisasi. Kita akan menyebut “gerak foton relatif terhadap intensitas medan gravitasi” dengan space-like.

Karena kita hidup di dalam space-like, superposisi fase berinterferensi pada intensitas medan semesta. Jadi foton itu sendiri yang berinterferensi dengan dirinya sendiri.

Misal observasi mendapatkan posisi foton pada vector ket, maka fungsi gelombang dari foton akan runtuh dan mengalami lompatan kuantum pada keadaan (state) vector ket. Polarisasi fase pada vector bra akan diserap dan bersuperposisi pada keadaan (state) vector ket. Kelajuan foton tidak akan berubah meski jarak ke keadaan (state) vector ket lebih panjang dari jarak ke keadaan (state) vector bra. Energi foton juga tidak berubah.

Energi kelajuan sama dengan energi diam. Superposisi dan interferensi foton juga terjadi pada electron.

Massa kelajuan sama dengan massa diam.

10 Tanggapan to “Massa Kelajuan sama dengan massa gravitasi”

  1. Santi said

    nice post…
    kunjungi ini ya..
    klik ini
    thanks

  2. Samaranji said

    Assalamu’alaikum…

    Koq belum posting lagi… sibuk ya mas (kayaknya keluarga besar kangmas haniifa lagi pada sibuk ya, ko lama ga posting artikel baru lagi… padahal dah kutunggu2 lho. Walaupun mumet banget untuk meraba2 maksudnya. he,,,he,,,)

    Wassalamu’alaikum.

  3. qarrobin said

    Wa ‘alay kum salam

    iya nih lagi sibuk….sebenernya udah ada di pikiran namun belum sempat diketik

  4. Samaranji said

    Assalamu’alaikum…

    sekedar mampir, dan ingin bertanya kabar.
    Semoga mas qarrobin sehat sehat aja,,, amin.

    Wassalamu’alaikum.

  5. penghuni60 said

    waduh, mumet jg nih…
    jd wkt msh sekolah

  6. Samaranji said

    Assalamu’alaikum….

    Wah,, dah muncul lagi masterku yg satu ini
    update postingan lg dunk, yg laennya dah tak save loh (cuman belum sy baca semua, he,,he..)

    Wassalamu’alaikum, mas(ter)…

  7. […] Massa Kelajuan sama dengan massa gravitasi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: