Arch Carrying Angels

Ngobrol seputar science, quran dan hanification

Archive for April 27th, 2011

Accross this New Divide

Posted by qarrobin pada April 27, 2011

Karena tulisan yang akan ditulis ini sangat mencolok. Ini adalah jenis tulisan bahwa kita harus menemukan kembali agama kita. Sampai saat ini Islam dikategorikan dalam 2 kelompok.

1.Hadits Islam

2.Haniif Islam

Anda mengetahui kelompok pertama. Kelompok ke-dua adalah minoritas. Untuk muslim hadits kita mengikuti cara ini :

Menurut Hadits, berapa waktu dan berapa rakaat kah shalat dalam sehari ?

Kita mengakui 5 waktu dengan 17 rakaat ditambah beberapa shalat sunnah.

Menurut Al Quran, berapa waktu dan berapa rakaat kah shalat dalam sehari ?

Jawaban saya adalah 3 waktu dengan masing – masing 2 rakaat

Perbedaannya terletak pada orang-orang yang mengajukan pertanyaan. Orang-orang yang mengajukan pertanyaan pertama dan pertanyaan kedua, apa yang mereka minta? Sadarilah. Ya, Al Hadits dan Al Quran.

Dalam Al Quran, shalat dalam sehari adalah 3 waktu. Orang – orang yang tidak percaya, hanya menuliskan ayat – ayat. Para penerjemah ingin mengkonversi 3 ke 5.

Misal nya berapa waktu kah shalat dalam sehari? Mari kita menemukan ayat – ayat.

011,114 : wa –aqimi shshalawaata tharafayi nnahhaari wa zulafan mmina llayli –inna lhasanaati yudzhhibna ssayyi-aati dzaalika dzikraa li dzdzaakiriyna

dan dirikan shalat – shalat (pada) dua taraf siang (pagi dan petang) dan (pada) bahagian permulaan dari malam, bahwa kebagusan akan menghapus keburukan, demikian ingatan bagi orang-orang yang ingat

017,078 : -aqimi shshalawaata li duluwki sysyamsi –ilaa ghasaqi llayli wa qur-aana lfajri inna qur-aana lfajri kaana masyhhuwdan

dirikan shalat – shalat bagi tergelincir matahari, kepada senja malam dan (kepada) bacaan fajar, bahwa bacaan fajar adalah yang disaksikan

dua taraf siang dilihat dari perjalanan matahari

pertama bagi tergelincir matahari dimulai ketika terbit matahari

ke-dua kepada senja malam yang berakhir ketika terbenam matahari

satu taraf malam dimulai dari bahagian permulaan dari malam dan berakhir ketika kita dapat membaca di waktu fajar

002,187 : … hattaa yatabayyana la kumu lkhaythu l-abyadhu mina lkhaythi l-aswadi mina lfajri …

… hingga terbukti bagi kamu benang putih dari benang hitam dari fajar …

ketika awal cahaya pagi datang yang disebut sebagai fajar, maka benang putih akan terbedakan dengan benang hitam, kertas putih akan terbedakan dari tinta hitam sehingga kita dapat membaca di waktu fajar. Ayat itu juga mengatakan bahwa bacaan di dalam shalat adalah bacaan dari Al Quran.

017,079 : wa mina llayli fa tahhajjad bi hhi naafilatan lla ka ‘asaa –an yab’atsa ka rabbu ka maqaaman mmahmuwdan

dan dari malam maka menginginlah dengan nya suatu keperluan bagi engkau (Muhammad) berharap supaya dibangkitkan engkau (oleh) rabb engkau, suatu maqam mahmuda

karena nabi Muhammad saw berharap untuk berada di surga mahmuda yang beratapkan sidrah tempat malaikat Jibril, maka nabi Muhammad saw diberikan shalat khusus untuk dirinya yakni shalat malam namun bukan kewajiban tetapi terserah keinginan beliau, sebanyak yang beliau inginkan namun dibagi per 2 rakaat setiap shalat. Shalat khusus untuk beliau ini kemudian dijadikan oleh umat Islam menjadi tarawih, padahal shalat malam ini bisa dilakukan pada malam apa pun tidak harus malam ramadhan.

Mari kita memberi komentar tentang ini. Tharafayi nnahhaar = dua taraf siang. Maksudku, Dia memberikan 2 waktu shalat untuk siang hari dan 1 waktu untuk malam hari. Jika ingin, kalian bangun di malam hari dan dirikanlah shalat sebanyak yang kalian inginkan. (3 waktu adalah kewajiban yang mengikat, keharusan) Tetapi ketika diberitahu jika mereka membaca ‘ayat – ayat allah pada beberapa saat di malam hari dan mereka bersujud 003,113’, hal ini bukan keharusan, tapi keinginan. Kalian bebas untuk memenuhi nya atau tidak. Tapi hati-hati, shalat di kedua taraf siang dan di waktu malam adalah kewajiban yang mengikat. Shalat tambahan ‘witir’ adalah menurut keinginan mu. 3 waktu ditentukan, yang ke-4 (yang diinginkan) ditunda hingga larut malam.

073,001-005 : yaa –ayyu hhaa lmuzzammilu, qumi llayla –illaa qaliylan, nnishfa hhu –awi nqush min hhu qaliylan, -aw zid ‘alay hhi wa rattili lqur-aana tartiylan, -innaa sanulqiy ‘alay ka qawlan tsaqiylan

Hai yang mana ia yang berselimut (Muhammad), dirikan (shalat) malam kecuali sedikit (dari akhir malam), seperduanya (pada musim semi dan musim gugur) atau kurangilah dari nya sedikit (pada musim panas), atau lebih atas nya (pada musim dingin) dan rattil al quran dengan irama teratur, bahwa sanulqiy atas engkau perkataan yang berat

003,113 : laysuw sawaa-an mmin –ahli lkitaabi –ummatun qaa-imatun yatluwna –aayaati llahhi -aanaa-a llayli wa hhum yasjuduwna

Tidak semua mereka sama dari ahli kitab ada ummat yang berdiri, akan dibacakan ayat – ayat allah pada beberapa saat di malam hari dan mereka bersujud

Mari kita menulis kembali surah Huud ayat 114.

011,114 : wa –aqimi shshalawaata tharafayi nnahhaari wa zulafan mmina llayli –inna lhasanaati yudzhhibna ssayyi-aati dzaalika dzikraa li dzdzaakiriyna

dan dirikan shalat – shalat (pada) dua taraf siang (pagi dan petang) dan (pada) bahagian permulaan dari malam, bahwa kebagusan akan menghapus keburukan, demikian ingatan bagi orang-orang yang ingat

–aqimi shshalawaata : shalat – shalat yang mengalami pergantian waktu. Ini seperti utang piutang laksana janji yang dibuat di ‘Qalu Bala’, dzaalika dzikraa li dzdzaakiriyna. Ini merupakan kewajiban yang mengikat yang dilakukan pada waktu yang tepat.

033,056 : inna llahha wa malaa-ikata hhu yushalluwna ‘alaa nnabiyyi yaa –ayyu hhaa lladziyna –aamanuw shalluw ‘alay hhi wa sallimuw tasliyman

bahwa allah dan malaikat nya akan bershallawa atas nabi, hai yang mana ia orang-orang yang beriman (berilah) penghormatan atas nya dan (ucapkanlah) kesejahteraan yang taslim

–aqimi shshalawaata : shalat – shalat sebagaimana yang kita ketahui. Tetapi ketika ‘–aqimi’ tidak diucapkan, ini bukan shalat – shalat dalam sehari. Ini berarti shallawa. Misalnya dalam ayat ‘bahwa allah dan malaikat nya akan bershallawa atas nabi’, jika kalian mengatakan shallawa = shalat – shalat dalam sehari, kalian akan bermasalah. Mengapa Allah dan malaikat menyembah dan melakukan shalat – shalat dalam sehari untuk nabi? Jawaban yang benar adalah ini : ‘Allah dan malaikat bershallawa untuk nabi mereka’. Analisa ayat – ayat dengan pemisahan ini. Kalian akan melihat bahwa dalam ayat-ayat yang kalian pilih,

1.Terdapat shalluw, penghormatan.

2.Terdapat shalawaata, shalat – shalat dalam sehari.

3.Tidak terdapat penghormatan atau shalat – shalat dalam sehari, melainkan memperhatikan waktu.

002,238 : haafizhuw ‘alaa shshalawaati wa shshalawaati lwusthaa wa quwmuw li llahhi qaanitiyna

Peliharalah atas (waktu) shalat – shalat dan (perhatikan) pertengahan (yang memisahkan) shalat – shalat dan berdirilah bagi allah qaanitiyna

Waktu dari shalat dalam sehari ditentukan oleh matahari. Ketika benang putih dan benang hitam terbedakan (saat bayangan berada di dalam bentuk terpanjang), pagi masuk. Setelah itu, bayangan memendek dan jatuh ke bagian bawah tiang. Di sini, ayat yang berkaitan berkata ‘jagalah … pertengahan shalat – shalat = haafizhuw … shshalawaati lwusthaa’. Ia tidak berkata –aqimi shshalawaata. Tidak ada pergantian (seperti 011,114 dan 017,078). Ia tidak memberitahu kalian untuk melakukan shalat di tengah siang dan berhati-hatilah. Sebaliknya, ada asal mula dari kata rata-rata, yakni tengah. Terdapat tengah = wusthaa yang kita kenal dengan baik. Sampai bayangan jatuh ke bagian bawah tiang, ini adalah satu tharaf dari siang.

Ketika bayangan melewati ke sisi lain dari tiang, ini adalah taraf berikutnya dari siang. Waktu berikutnya dari shalat dimulai. Panjang bayangan bawah yang sangat pendek pada tengah siang, memanjang dan ketika matahari terbenam ia memiliki bentuk yang terpanjang. Setelah beberapa waktu kalian tidak dapat membedakan antara benang putih dan benang hitam. Sebagai contoh kalian tidak dapat membaca buku. Ini artinya : malam datang. Sampai pagi hanya ada satu waktu bagi seluruh malam.

Pada waktu siang ada suatu tiang bayangan, tapi di sisi lain dari bumi dimana sedang malam tidak dapat ada suatu tiang dan bayangan. Sehingga kalian memperpanjang tiang ke sisi malam titik per titik. Kalian akan melihat bahwa malam juga dibagi menjadi dua. Satu sisi malam adalah untuk kewajiban yang mengikat dan yang lain adalah untuk yang satu (witir) yang kalian ingin lakukan sebanyak yang kalian sukai sesuai dengan ayat ‘bahwa mengembangkan (shalat) malam ia sangat terhubung dan berdiri bacaan (untuk khusyuk) 073,006’. Disini, ini merupakan interpretasi dari ayat Huud 011,114 yang berkata ‘bahagian permulaan dari malam’.

011,114 : wa –aqimi shshalawaata tharafayi nnahhaari wa zulafan mmina llayli –inna lhasanaati yudzhhibna ssayyi-aati dzaalika dzikraa li dzdzaakiriyna

dan dirikan shalat – shalat (pada) dua taraf siang (pagi dan petang) dan (pada) bahagian permulaan dari malam, bahwa kebagusan akan menghapus keburukan, demikian ingatan bagi orang-orang yang ingat

073,006 : -inna naasyi-ata llayli hhiya –asyaddu wath-an wa –aqwamu qiylan

bahwa mengembangkan (shalat) malam ia sangat terhubung dan berdiri bacaan (untuk khusyuk)

073,007 : -inna la ka fiy nnahhaari sabhan thawiylan

bahwa bagi engkau (Muhammad) di dalam siang pergerakan (urusan) yang panjang

Sekarang mari kita menemukan ayat lain yang berkaitan dengan shalat. Mari kita menganalisa nya. Adalah mustahil bagi kalian untuk menunjukkan saya 5 waktu shalat dalam sehari. Saya percaya pada apa yang Allah informasikan. Para penerjemah yang mengkonversi 3 waktu ke 5 waktu.

002,238 : haafizhuw ‘alaa shshalawaati wa shshalawaati lwusthaa wa quwmuw li llahhi qaanitiyna

Peliharalah atas (waktu) shalat – shalat dan (perhatikan) pertengahan (yang memisahkan) shalat – shalat dan berdirilah bagi allah qaanitiyna

Ini bukan ‘shalat pertengahan’, tetapi ia memberitahu kalian untuk memperhatikan pertengahan yang memisahkan shalat – shalat ‘jagalah … pertengahan shalat – shalat = haafizhuw … shshalawaati lwusthaa’. haafizhuw = memelihara, menjaga. ‘alaa shshalawaati = atas shalat-shalat. (Ia tidak memberitahu kalian untuk melakukan shalat, tidak ada –aqimi shshalawaata) wa shshalawaati lwusthaa = pertengahan yang memisahkan dua taraf pada siang hari.

017,078 : -aqimi shshalawaata li duluwki sysyamsi –ilaa ghasaqi llayli wa qur-aana lfajri inna qur-aana lfajri kaana masyhhuwdan

dirikan shalat – shalat bagi tergelincir matahari, kepada senja malam dan (kepada) bacaan fajar, bahwa bacaan fajar adalah yang disaksikan

‘–aqimi shshalawaata = dirikan shalat – shalat’ dikatakan. Sampai saat ketika matahari di titik tertinggi (pertengahan siang), hingga saat ketika malam tiba, kemudian sampai awal cahaya pagi datang. Ia dihitung 3 waktu. Ia memberitahu kita untuk mendirikan shalat. Terlebih lagi ia memberitahu bahwa karena waktu pagi dan malam malaikat bertukar tugas pada awal pagi, shalat yang dilakukan pada saat fajar adalah yang disaksikan. The evil of night comes to an end. Siapa yang dapat memberitahu saya shalat dalam sehari adalah 5 waktu dalam Al Quran? Shalat pertengahan sore adalah surah ‘ashr menurut penerjemah. ‘ashr = shalat pertengahan sore??? Mari kita menulis surah ‘ashr.

1.dan waktu yang melalui zaman – zaman,

2.bahwa manusia bagi di dalam kerugian,

3.kecuali orang-orang yang bependirian, dan mengerjakan perbaikan, dan mewasiatkan dengan lengkap, dan mewasiatkan dengan shabar.

Sekarang dipersilahkan maukah kalian menemukan ku :

1.dimana shalat pertengahan sore?

2.bagaimana ia diadakan?

3.apa disana ada shalluw dan shalawaata?

4.apa ini shalat pertengahan sore?

Dalam Arabik ‘ashr = ratusan tahun, ‘asyr = sepuluh tahun (Aşar, öşür, aşura berarti desimal, sepuluh material) Shalat pertengahan sore dan shalat 2 jam setelah matahari terbenam (yatsı) muncul tentunya di dalam Al Hadits. Hanya mereka tidak berada di dalam Al Quran.

107,004 : fa waylun lli lmushalliyna

maka celaka bagi orang – orang yang shalat

107,005 : lladziyna hhum ‘an shalaati hhim saahhuwna

orang – orang yang mereka dari shalat mereka, orang – orang yang lalai

107,006 : lladziyna hhum yuraa-uwna

orang – orang yang mereka, orang – orang yang akan mempamerkan

Manusia selalu mengecewakan Pencipta mereka, dan Pencipta kita memanggil kita ‘yang tidak berterima kasih’. Maa’uun = yang ditamparkan ke wajah, dibalikkan kembali.

Mari kita menulis surah An Nisaa ayat 102-103.

004,102 : wa –idzaa kunta fiy hhim fa –aqamta la hhumu shshalaata fa l taqum thaa-ifatun min hhum mma’a ka wa l ya-khudzuw –aslihata hhum fa –idzaa sajaduw fa l yakuwnuw min waraa-i kum wa l ta-ti thaa-ifatun –ukhraa lam yushalluw fa l yushalluw ma’a ka wa l ya-khudzuw hidzra hhum wa –aslihata hhum wa dda lladziyna kafaruw law taghfuluwna ‘an –aslihati kum wa -amti’ati kum fa yamiyluwna ‘alay kum mmaylatan waahidatan wa laa junaaha ‘alay kum –in kaana bi kum –adzan mmin mmatharin –aw kun tum mmardhaa –an tadha’uw –aslihata kum wa khudzuw hidzra kum –inna llahha -a’adda li lkaafiriyna ‘adzaaban mmuhiynan

dan bila adalah (engkau) di dalam mereka, maka dirikan bagi mereka shalat, maka bagi mendirikan salah satu pihak dari mereka beserta engkau, dan bagi akan mengambil (mempersiapkan) senjata mereka, maka bila sujud (1 raka’at), maka bagi akan adalah dari belakang kamu, dan bagi memberikan pihak akhir yang masih belum shalat maka bagi supaya shalat beserta engkau (1 raka’at) dan bagi akan mengambil penjagaan mereka, dan senjata mereka, dan ingin orang-orang yang kafir, sekiranya kamu melengahkan dari senjata kamu dan perlengkapan kamu, maka mereka akan menyerang atas kamu satu serangan, dan tidak salah atas kamu jika adalah dengan kamu idzin dari ketidaknyamanan hujan atau adalah kalian sakit supaya meletakkan senjata kamu, dan mengambil penjagaan kamu, bahwa allah membilang bagi orang-orang yang kafir siksaan yang hiyna

004,103 : fa –idzaa qadhay tumu shshalaata fa dzkuruw llahha qiyaaman wa qu’uwdan wa ‘alaa junuwbi kum fa –idzaa thma-na ntum fa –aqiymuw shshalaata -inna shshalaata kaanat ‘alaa lmu-miniyna kitaaban mmawquwtan

maka bila selesai kalian shalat, maka ingatlah allah (sambil) berdiri, dan duduk, dan atas berbaring kamu, maka bila telah merasa aman kalian, maka dirikan shalat (dalam cara yang benar 2 raka’at) bahwa shalat adalah atas orang-orang yang beriman tulisan yang diwaqtukan

Mari kita menulis An Nisa 101.

004,101 : wa –idzaa dharab tum fiy l-ardhi fa laysa ‘alay kum junaahun –an taqshuruw mina shshalaati –in khif tum –an yaftina kumu lladziyna kafaruw –inna lkaafiriyna kaanuw la kum ‘aduwwan mmubiynan

dan bila tampil kalian di dalam bumi, maka tidak ada atas kamu kesalahan, supaya mempersingkat dari shalat, jika takut kalian, bahwa akan memfitnah kamu orang-orang kafir, bahwa orang – orang kafir adalah bagi kamu musuh yang terbukti

Shalat disingkat ketika di perjalanan. Ketika perjalanan diartikan, termasuk takut terhadap peperangan dan penjahat. ‘dan bila adalah (engkau) di dalam mereka, maka dirikan bagi mereka shalat’, maksud ku ayat mengatakan bila engkau adalah ‘imam’-pemimpin shalat- mereka, bagi mereka menjadi dua pihak. ‘maka bagi mendirikan (shalat) salah satu pihak dari mereka beserta engkau … maka bila sujud (1 raka’at) … maka bagi memberikan pihak akhir … supaya shalat beserta engkau (1 raka’at)’. Pemimpin shalat mendirikan 2 raka’at. ‘maka bagi akan adalah dari belakang kamu’, mempersingkat shalat. Pemimpin shalat tidak mempersingkat dan dia mendirikan sebagaimana hari-hari biasa. Dia menunggu bagi kedua pihak menyelesaikan shalat mereka.

Berapa raka’at kah shalat yang setengah nya adalah 1 raka’at? Sujud adalah akhir dari satu raka’at. Setiap satu pihak akan bersujud satu kali. Shalat memiliki 4 gerakan. Raka’at dimulai dengan berdiri tegak, kita ruku’, kita selesaikan raka’at dengan sujud. Kita berdiri dan mulai raka’at kedua, ketika shalat berakhir, kita duduk sebagai qu’uda. (gerakan ke-empat) yang ke-empat ini mengakhiri shalat. Sujud memisahkan raka’at. Qıyam adalah berdiri tegak, Ruku’ adalah membungkuk 900, Sujud adalah merebahkan, membungkuk 1800, menyentuh lantai, Qu’uda adalah duduk. Kalian salaam ke sisi kanan dan kiri. Kalian menyelesaikan shalat pada posisi Qu’uda. Untuk bersedekap adalah terserah keinginan makhluk. Yang penting adalah gerakan dasar tubuh. Seperti mengangkat kedua tangan kemudian kedua tangan kembali ke sisi, mengangkat kedua tangan kemudian ruku’, mengangkat kedua tangan kemudian sujud.

003,101 : wa kayfa takfuruwna wa –antum tutlaa ‘alay kum –aayaatu llahhi wa fiy kum rasuwlu hhu wa man ya’tashim bi llahhi fa qad hhudiya –ilayaa shiraathin mmustaqiymin

dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir dan kalian membaca atas kamu ayat – ayat Allah dan di dalam kamu rasul Nya? dan sesiapa ya’tashim dengan Allah maka sungguh dibimbing pada jalan orang – orang yang akan mendirikan

Bahkan Allah mengatakan bahwa mereka berasal dari Islam dan menanyakan mereka bagaimana mereka menghianati Muhammad saw.

009,107-108 : wa lladziyna ttakhadzuw masjidan dhiraaran wa kufran wa tafriyqan bayna lmu-miniyna wa –irshaadan lli man haaraba llahha wa rasuwla hhu min qablu wa la yahlifunna –in –aradnaa –illaa lhusnaa wa llahhu yasyhhadu –inna hhum la kaadzibuwna, laa taqum fiy hhi –abadan lla masjidun –ussisa ‘alaa ttaqwaa min –awwali yawmin –ahaqqu –an taquwma fiy hhi fiy hhi rijaalun yuhibbuwna –an yatathahhhharuw wa llahhu yuhibbu lmuththahhhhiriyna

dan orang-orang yang mengambil masjid (untuk) kemudharatan dan kekafiran dan memecah antara orang-orang yang beriman dan mempersiapkan bagi orang yang menghadapi Allah dan Rasul-Nya dari sebelumnya, dan bagi akan bersumpah jika menghendaki kecuali kebagusan, dan Allah akan menyaksikan bahwa mereka bagi orang – orang yang dusta. Jangan mendirikan (shalat) di dalamnya selama-lamanya, bagi masjid yang dasarnya atas taqwa dari awwal hari lebih haqq supaya mendirikan di dalamnya (untuk shalat), di dalamnya akan ada laki – laki yang mencintai supaya membersihkan diri, dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri

Muhammad saw telah menghancurkan masjid tersebut.

003,105 : wa laa takuwnuw kaa lladziyna tafarraquw wa khtalafuw min ba’di maa jaa-a hhumu lbayyinaatu wa –uwlaa-ika la hhum ‘adzaabun ‘azhiymun

dan jangan menjadi seakan orang – orang yang memecah dan berselisih dari setelah apa datang (kepada) mereka bukti dan demikian bagi mereka siksa yang ‘azhiym

ayat ini menceritakan tentang orang – orang yang mendirikan mazhab, para imam dari mazhab, dan orang – orang yang mengikuti mereka, orang – orang yang mencintai mazhab mereka melebihi agama mereka.

003,095 : qul shadaqa llahhu fa ttabi’uw millata –ibraahhiyma haniyfan wa maa kaana mina lmusyrikiyna

katakan “shadaqa llahh” maka ikutilah ajaran Ibrahim, haniif, dan apa adalah dari musyrikiyn?

003,113-114-115 : laysuw sawaa-an mmin –ahli lkitaabi –ummatun qaa-imatun yatluwna –aayaati llahhi -aanaa-a llayli wa hhum yasjuduwna, yu-minuwna bi llahhi wa lyawmi l-akhiri wa ya-muruwna bi lma’ruwfi wa yanhhawna ‘ani lmunkari wa yusaari’uwna fiy lkhayraati wa –uwlaa-ika mina shshaalihiyna, wa maa yaf’aluw min khayrin fa lan yukfaruw hhu wa llahhu ‘aliymun bi lmuttaqiyna

Tidak semua mereka sama dari ahli kitab ada ummat yang berdiri, akan dibacakan ayat – ayat allah pada beberapa saat di malam hari dan mereka bersujud, akan beriman dengan allah dan hari akhir dan akan memerintahkan dengan ma’ruf dan akan mencegah dari munkar dan akan bersegera di dalam kebaikan dan demikian dari orang-orang yang memperbaiki, dan apa yang akan mereka perbuat dari kebaikan maka tidak akan ditutupi ia dan allah mengetahui dengan orang – orang yang bertakwa

ayat ini menceritakan tentang haniif, jika kalian membaca ayat – ayat, mereka akan bertanya apa yang terjadi dengan hadits? Jika kalian membuka ayat dan menunjukkannya sebagai ‘ini diberitahukan oleh Allah’ jawaban mereka adalah ini ‘apakah engkau mengetahui lebih baik dari leluhur kami selama ratusan tahun? kakek buyut ku adalah syeikh Islam dan kakek ku adalah syeikh thariqat yang terkenal, kami muslim selama beberapa generasi’.

002,170 : wa –idzaa qiyla la humu ttabi’uw maa –anzala llahhu qaaluw bal na ttabi’uw maa –alfay naa ‘alay hhi –aabaa-a naa –awalaw kaana –aabaa-u hhum laa ya’qiluwna syay-an wa laa yahhtaduwna

dan bila dikatakan bagi mereka : ‘ikuti apa yang diturunkan allah’, berkata (mereka) : ‘bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati atas nya bapak – bapak kami’, walau adalah bapak – bapak mereka tidak akan meng’aqal sesuatu dan tidak akan terbimbing

Posted in al quran, haniif, Science, Sejarah Islam | 61 Comments »