Arch Carrying Angels

Ngobrol seputar science, quran dan hanification

Mut’ah bukan jenis pernikahan

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 28, 2009

004,024 : wa lmuhshanaatu mina nnisaa-i illaa maa malakat aymaanukum kitaaba llahi ‘alaykum wa uhilla lakum mmaa waraa-a dzaalikum an tabtaghuu bi amwaalikum muhshiniina ghayra musaafihiina fa maa stamta’tum bihi min hunna fa –aatuu hunna ujuura hunna fariidhatan wa laa junaaha ‘alaykum fii maa taraadhaytum bihi min ba’di lfariidhati inna llaha kaana ‘aliiman hakiiman

Dan yang dibentengi dari wanita, kecuali apa yang dimiliki (dari) aymaan kamu (untuk melindungi mereka) sebagai tulisan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu apa yang dibelakang (tulisan). Demikian kamu untuk mencari dengan harta kamu benteng (nikah) selain (fitnah) yang melemahkan. Maka apa yang kamu senangi dengan nya(pernikahan) dari mereka, maka berikanlah mereka mahar mereka sebagai kewajiban, dan tiada pelanggaran atas kamu di dalam apa kamu saling ridha dengan nya(mahar) dari setelah kewajiban, sungguh Allah adalah maha mengetahui lagi maha bijaksana (an nisaa- 004,024).

002,236 : llaa junaaha ‘alaykum in thallaqtumu nnisaa-a maa lam tamassuu hunna aw tafridhuu lahunna fariidhatan wa matti’uu hunna ‘alaa lmuusi’I qadaruhu wa ‘alaa lmuqtiri qadaruhu mataa’aa bi lma’ruufi haqqan ‘alaa lmuhsiniina

Tiada pelanggaran atas kamu jika kamu menceraikan wanita, apa yang belum dipengaruhi (dari) mereka atau (yang belum) diwajibkan bagi mereka kewajiban (diberikan mahar), dan senangkanlah mereka (dengan suatu pemberian), yang luas (hartanya) menurut kemampuannya, dan atas yang kurang (hartanya) menurut kemampuannya, kesenangan dengan yang ‘arif, haqq atas orang-orang yang berbuat kebajikan

az zukhruf 043,029 مَتَّعْتُ artinya kesenangan,

al baqarah 002,126 : fa man kafara fa umatti’u hu qaliilan
maka siapa kafir, maka Aku berikan dia kesenangan sedikit

مَتَّعْتُ bukanlah jenis pernikahan, jika mut’ah adalah sejenis nikah kontrak maka akan aneh menterjemahkan 002,126 menjadi “maka Aku nikahi ia(yang kafir) secara mut’ah sementara”

Ditulis dalam Science | 5 Komentar »

‘iid al jumu’ah

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 28, 2009

005, 114 : qala ‘iisaa bnu maryama llahumma rabbanaa anzil ‘alaynaa maa-idatan mmina ssamaa-i takuunu lanaa ‘iidan lli awwalinaa wa –aakhirinaa wa –aayatan mminka wa rzuqnaa wa anta khayru rraaziqiina

Berkata ‘iisaa ibnu maryam, ya rabb kami, turunkan atas kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi bagi kami ‘iid bagi (orang-orang) yang awwal (bersama) kami dan (orang-orang) yang akhir (setelah) kami dan (menjadi) tanda dari (kekuasaan) Engkau, dan rizqi (bagi) kami dan Engkau pemberi rizqi yang baik (al maa-idah 005,114).

‘iid bagi ummat ‘iisaa (al jumu’ah 062,002)

dan ‘iid bagi ummat muhammad (al jumu’ah 062,003)

062,009 : yaa ayyuha lladziina –aamanuu idzaa nuudiya li shshalaati min yawmi ljumu’ati fa s’aw laa dzikri llahi wa dzruu lbay’a dzaalikum khairun llakum in kuntum ta’lamuuna

Hai padanya orang-orang yang beriman bila dianjurkan bagi shalat dari hari jum’at maka carilah kepada mengingat Allah dan serahkanlah penawaran, yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui

Ditulis dalam Sejarah Islam | 4 Komentar »

Al jumu’ah 62:2-3

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 27, 2009

Nampaknya ada sedikit pencerahan dari blog renungan isa terhadap postingan sebelumnya yang berhubungan dengan postingan kang haniifa

062,002 : huwa lladzii ba’atsa fii l-ummiyyina rasuulan mminhum yatluu ‘alayhim -aayaatihi wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumu lkitaaba wa lhikmata wa in kaanuu min qablu la fii dhalaalin mmubiinin

dia (allah) yang membangkitkan di dalam (qawm) yang ummiy, rasul (‘iisaa) dari (antara) mereka, yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan mereka al kitab dan al hikmah, dan sungguh adalah mereka dari sebelumnya bagi di dalam kesesatan yang nyata (al jumu’ah 062,002).

062,003 : wa -aakhariina minhum la mmaa yalhaquu bihim wa huwa l’aziizu lhakiimu

dan (qawm) yang akhir (di Paran) dari mereka bagi maa yalhaquu dengan mereka, dan dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana (al jumu’ah 062,003).

ayat 2 dan 3 dari surah al jumu’ah ini sering dihubungkan untuk mendukung wacana bahwa setelah muhammad saw, akan ada rasul yang lain atau imam mahdi dari sekte2 islam, untuk lebih jelas, silahkan pelajari link yang saya beri di awal

Ditulis dalam Sejarah Islam | 10 Komentar »

Simplenya wudhu

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 27, 2009

005,006 : yaa ayyuhaa lladziina -aamanuu idzaa qumtum ilaa shshalaati fa ghsiluu wujuuhakum wa aydiyakum ilaa lmaraafiqi wa msahuu bi ru-uusikum wa arjulakum ilaal ka’ba yni wa in kuntum junuban fa ththahharuu wa in kuntum mmardhaa aw ‘alaa safarin aw jaa-a ahadun mminkum mmina lghaa-ithi aw laamastumu nnisaa-a fa lam tajiduu maa-an fa tayammamuu sha’iidan thayyiban fa msahuu bi wujuuhikum wa aydiikum mminhu maa yuriidu llahu li yaj’ala ‘alaykum mmin harajin walaakin yuriidu li yuthahhira kum wa li yutimma ni’matahu ‘alaykum la’allakum tasykuruuna

Hai padanya orang-orang yang beriman, bila berdiri kamu kepada shalat, maka basuh wajah kamu dan (basuh) tangan kamu kepada siku, dan usap dengan kepala kamu dan (usap) kaki kamu kepada dua (ka’ba) mata kaki. Dan jika kamu (setelah) berbaring (dengan pasanganmu), maka bersihkanlah. Dan jika kamu sakit atau atas bepergian atau datang satu dari kamu dari (membuang) kotoran atau merasakan perempuan maka tidak menemukan air, maka tayammum (dengan) lapangan yang baik, dan usap dengan wajah kamu dan tangan kamu darinya. Apa ingin allah bagi menjadikan atas kamu dari kesulitan, tetapi ingin bagi membersihkan kamu dan bagi menyempurnakan nikmatNya atas kamu, supaya kamu bersyukur (al maa-idah 005,006).

004,043 : yaa ayyuhaa lladziina –aamanuu la taqrabuu shshalaata wa antum sukaaraa hattaa ta’lamuu maa taquuluuna wa laa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu wa in kuntum mmardhaa aw ‘alaa safari aw jaa-a ahadun mminkum mmina lghaa-ithi aw laamastumu nnisaa-a fa lam tajiduu maa-an fa tayammamuu sha’iidan thayyiban fa msahuu bi wujuuhikum wa aydiikum inna llaha kaana ‘afuwwan ghafuuran

Hai padanya orang-orang yang beriman, jangan mendekati shalat, sedang kamu sukaaraa, hingga mengetahui apa yang diucapkan. Dan tidak, (setelah) berbaring (dengan pasanganmu), kecuali sekedar berlalu, hingga membasuh. Dan jika kamu sakit atau atas bepergian atau datang satu dari kamu dari (membuang) kotoran atau merasakan perempuan maka tidak menemukan air, maka tayammum (dengan) lapangan yang baik, dan usap dengan wajah kamu dan tangan kamu (darinya). Sungguh Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun (an nisaa- 004,043).

Allah tidak menjadikan kesulitan bagi manusia

Wudhu :

1. Aghsilu

Membasuh wajah (cukup 1 kali)

Membasuh tangan hingga siku (cukup 1 kali)

2. Amsahu

Mengusap kepala (cukup 1 kali)

Mengusap kaki hingga mata kaki (cukup 1 kali)

Thaharah : setelah berhubungan dengan pasangan, aghsilu (basuhlah) sebelum shalat

Bagi orang yang sukaaraa : setelah sadar, ambil wudhu lalu dirikan shalat

Tayammum : jika tidak menemukan air, menggunakan lapangan (tanah atau dinding) yang bersih

Jika sakit

Jika bepergian

Setelah membuang hajat

Setelah berhubungan dengan pasangan (baik suami maupun istri)

Amsahu :

Mengusap wajah (cukup 1 kali)

Mengusap tangan (hingga siku cukup 1 kali)

Ditulis dalam Science | Leave a Comment »

Ziinata(perhiasan) wanita

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 25, 2009

Nampaknya Shabbir Ahmed dan Hans von Aiberg sepakat dengan ayat ini, bagi teman2 yang memiliki pengetahuan, saya mohon pencerahannya

024,031 : wa qul li lmu-minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wa yahfudzna furuujahunna wa laa yubdiina ziinatahunna illaa maa dzahara minhaa wa lyadhribna bi khumurihinna ‘alaa juyuubihinna wa laa yubdiina ziinatahunna illaa li bu’uulatihinna aw –aabaa-ihinna aw –aabaa-I bu’uulatihinna aw abnaa-ihinna aw abnaa-I bu’uulatihinna aw ikhwaanihinna aw banii ikhwaanihinna aw banii akhawaatihinna aw nisaa-ihinna aw maa malakat aymaanuhunna awi ttaabi’iina ghairi uwliil irbati mina rrijaali awi ththifli lladziina lam yazhharuu ‘alaa ‘awraati nnisaa-i wa laa yadhribna bi arjulihinna li yu’lama maa yukhfiina min ziinatihinna wa tuubuu ilaa llahi jamii’an ayyuha lmu-minuuna la’alla kum tuflihuuna

an nuur 024,031 :

dan katakan bagi wanita yang beriman :

1. tahanlah dari pandangan mereka

2. dan memelihara kemaluan mereka

3. dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang dzahir darinya

4. dan tampilkan dengan kain kudung atas dada mereka

5. dan tidak menampakkan perhiasan mereka

-. kecuali bagi suami mereka atau ayah mereka

-. atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka

-. atau putera-putera suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka

-. atau putera-putera saudara lelaki mereka atau putera-putera saudara perempuan mereka

-. atau wanita-wanita (sesama) mereka atau apa yang dimiliki (terhadap) pelayan mereka

-. atau yang mengikuti selain uwliil irbati dari lelaki

-. atau thifli yang belum zhahir atas ‘awraat wanita

6. dan tidak menampilkan dengan lelaki (yang lain di sekitar) mereka bagi mengetahui apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka

dan bertaubatlah kepada allah kamu sekalian, padanya orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.

——————————————————————————————

Khumur bukan berarti penutup kepala, yang diperintahkan adalah menutup juyuub/dada

‘awraat wanita yang harus ditutup adalah ziinah/perhiasan yang ada pada tubuh wanita yakni juyuub/dada dan furuuj/kemaluan wanita

Ditulis dalam Science | Bertanda: , , , , | 3 Komentar »

Ayat shalat di dalam quran

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 24, 2009

wacana ini dari Hans von Aiberg, jika terdapat kesalahan, saya mohon pencerahan dari teman2

025,033 : wa laa ya-tuuna ka bi matsalin illaa ji- naa ka bi lhaqqi wa ahsana tafsiiran

Dan tidak diberikan (kepada) engkau dengan perumpamaan, kecuali kami datangkan (kepada) engkau dengan yang haqq dan sebaik-baik Tafsir (al furqan 025,033).

012,111 : ma kaana hadiitsan yuftaraa wa laakin tashdiiqa lladzii bayna yadayhi wa tafshiila kulli syai-in wa hudan wa rahmatan lli qawmin yu-minuuna

Al quran itu bukanlah hadits yang dibuat-buat, bahkan dia mengoreksi yang ada di hadapannya, dan penjelasan bagi tiap sesuatu, dan petunjuk dan rahmat bagi qawm yang beriman (yusuf 012,111).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Science | 4 Komentar »

Para penjahat Islam

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 13, 2009

PARA PENJAHAT ISLAM

PERKENALAN

September 2007 – Oktober 2007

Para Penjahat Islam mungkin merupakan sebuah buku yang paling menantang yang pernah anda baca. Membutuhkan keberanian untuk menulis buku ini dan tentunya membutuhkan keberanian juga untuk membacanya. Keyakinan kita yang turun-temurun telah mendarah daging dalam psikis dan emosional kita. Mematahkan keyakinan ini adalah bencana yang tidak lebih kecil daripada mematahkan patung berhala milik para pemuja berhala. Maka dari itu, buku ini direkomendasikan hanya kepada pembaca yang memiliki pikiran terbuka dan memiliki keteguhan akhlak yang cukup.

Buku ini akan menunjukkan dengan jelas kemustahilan yang luar biasa, kekotoran, ketidakmaluan, pemalsuan, dan kedengkian dari beberapa cendikiawan, Imam, Ulama Muslim yang terbesar dan yang sudah terkenal luas. Syekh Sa’adi Shirazi menyuarakan prinsip scholastic; “Membongkar pelanggaran bukanlah pelanggaran.” [Diadaptasi dari bahasa Persia – fitnah digantikan pelanggaran, karena Dr. Shabbir sangat berhati-hati untuk menggunakan istilah ‘fitnah’]. Mengupas figur pujaan dalam sejarah mungkin terdengar menghujat. Walau demikian, ilmu pengetahuan pada dasarnya memang terbuka untuk kritik, dan saya mengijinkan tokoh-tokoh tersebut untuk berbicara melalui tulisan mereka sendiri. Beberapa pembaca mungkin heran kepada mazhab mana penulis ini bekerja. Jawabannya, “Tidak ada!” Al Quran ditujukan kepada siapa saja yang yakin sebagai Muslim. Tolong ingat ordinansi Al Quran bahwa bagi siapa saja yang memilih sekte/mazhab dalam Islam, maka Nabi yang agung tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka (6:159-160). Ketika yang mulia Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan, ditanyakan tentang mazhab-nya, dia menjawab, “Beritahu saya, mazhab mana yang Nabi ajarkan dan mazhab mana yang para sahabat mulia ikuti.”

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sejarah Islam | 7 Komentar »

Islam : Sejarah yang benar dan keyakinan-keyakinan yang keliru

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 13, 2009

BISMILLAH-IR-RAHMAN-IR-RAHEEM

Atas nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang – yang meliputi seluruh alam semesta, menghidupi dan memelihara seluruh makhluk atas fungsinya masing-masing, seperti rahim seorang ibu yang mencukupi makanan bayinya hingga ia lahir tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun.

['Rahm' dalam 'Rahman' dan 'Rahim' termasuk dalam segala hal]

ISLAM: SEJARAH YANG BENAR DAN KEYAKINAN-KEYAKINAN YANG KELIRU

Oleh Shabbir Ahmed, M.D. Florida

Penulis berterimakasih yang paling dalam untuk Arif Shamim di Karachi dan Farooq Siddiqui di Texas untuk kontribusi intelektualitas mereka pada karya ini sebagai tambahan pada “Thus Speaks the Bible” dan “Hindu Fundamentalism”.

PERHATIAN:            Semua kritik penulis dalam buku ini ditujukan kepada para pakar sejarah, dan bukan semua pribadi Islam yang Mulia- Nabi yang Mulia, Sahaba Kiraam, Hazraat Ali, Fatima, Hasan dan Husain, semua yang telah menginspirasi rujukan dan hormat kami.

PERKENALAN:

Sejumlah buku telah ditulis dengan judul Sejarah Islam selama seribu tahun belakangan, tetapi lebih tepatnya Sejarah Orang-orang Muslim. Perbedaan antara keduanya kelihatannya tidak ada atau tidak signifikan, tetapi justru itu yang terpenting. Seperti hampir semua buku tentang sejarah bangsa-bangsa, Sejarah orang-orang Muslim hanya berkutat di antara mereka saja. Sejarah yang paling awal yang pernah ditulis mengenai Sejarah Islam adalah tulisan dari “Imam” Tabari  yang menurut kabar sekitar 280 tahun setelah Nabi Muhammad yang Mulia. Para pakar sejarah sesudahnya telah mengikutinya secara membabi-buta dan mengulang-ulangnya dengan mengabaikan keotentikan karyanya.

“The True History of Early Islam” (Sejarah yang Sebenarnya dari Islam Awal) mungkin adalah karya pertama yang berusaha untuk melacak Sejarah Islam. Berdasarkan penelitian terhadap banyak sekali karya, dari yang terkenal sampai yang hampir punah, menjanjikan pembaca untuk dibawa menuju kebenaran mencengangkan untuk pertama kalinya. Kami akan mencoba melacak perjalanan Islam dan berusaha untuk memahami kenapa, bagaimana, kapan, dan oleh siapa  Islam yang murni sebagaimana dibawa oleh Nabi Muhammad yang Mulia, telah diubah menjadi Buatan-Manusia, Palsu, Ritualistik, Asing atau Islam Ajami seperti hari ini.

Beberapa pemikir hebat telah menamai degenerisasi Islam ini dengan berbagai cara. Sir Syed Ahmed Khan dari India (w. 1898) meyebutnya Islam Rekaan pada tahun 1885. Syed Jamaluddin Afghani (w. 1897) meragukannya sebagai Agama Fatalistik. Sarjana Mesir yang terkenal Mufti Muhammad Abde Rabbuhu (w. 1905) memberikan nama Deen-il-Ghareeb (Agama yang Aneh) sekitar 1900. Allama Sir Muhammad Iqbal (w. 1938) mengistilahkannya Islam Ajami (Asing) sekitar tahun 1918. Allama Inayatullah Khan Al-Mashriqi (w. 1956) menyebutnya Maulvi Ka Ghalat Mazhab (Agama Sang Mullah Yang Salah) di tahun 1940an. Mengikuti trend modern, Saya telah memilih untuk menyebutnya Islam Nomor Dua, mencocokkan dengan istilah yang diberikan kepada obat palsu.

Pembaca yang terhormat sebaiknya siap akan perjalanan bergelombang dalam penemuan fakta kebenaran yang mengejutkan dalam sebuah format yang tidak biasa seperti yang dikembangkan oleh buku ini. Buku ini ditulis dengan perhatian khusus akan keringkasan dan kejelasan. Kebanyakan isi memfokuskan kepada ‘kesalahan’ yang banyak diterima pada paragraf-paragraf acak.

Saya berpikir untuk cara yang terbaik dalam mencapai keobyektifan memilah antara mitos dan kenyataan, antara fiksi dan fakta akan seperti membuat sebuah buku mengenai cerita yang paling terkenal dari ‘Sejarah Islam’, contohnya Peristiwa Karbala. Pada akhirnya pembaca mungkin akan setuju dengan pendekatan ini.

AH dalam buku ini berarti Al-Hijrah, Kalender yang dimulai saat migrasinya Muhammad dari Makkah ke Madinah, 16 Juli 622 M (CE). CE berarti Common Era atau Masehi. Sall-Allahu alayihi Wasallam akan dituliskan dengan (S), shalawat khusus untuk Nabi yang Agung. Sahaba berarti sahabat-sahabat Nabi (S). Sahabi untuk satu orang. Hadith menunjukkan perkataan-perkataan Nabi yang diriwayatkan. Sunnah menyinggung tentang gaya hidup beliau. Hadith dan Sunnah hampir selalu ditemukan bercampur maknanya dalam buku-buku tanpa pemisahan yang jelas. Tanda Penghargaan untuk setiap Nabi atau Sahabi ialah Hazrat (Jamak; Hazraat berarti ‘yang terhormat’). ‘Salam atas dirinya’ akan didefinisikan dengan a.s. (alayihissalam) dan ‘Allah senang atas dirinya, dengan r.a. (Radhi-Allahu-’anh’ atau ‘anha’).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sejarah Islam | 4 Komentar »

Adonai dan Adoni (Mazmur 110:1)

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 13, 2009

Posted by mochihotoru

Bukti Terkuat dalam Alkitab untuk Menunjukkan Perbedaan antara Tuhan Yang Esa dan Mesias yang Bukan Tuhan

לְדָוִד, מִזְמוֹר:
נְאֻם יְהוָה (אֲדֹנָי), לַאדֹנִי–שֵׁב לִימִינִי; עַד-אָשִׁית אֹיְבֶיךָ, הֲדֹם לְרַגְלֶיךָ. (Mazmur 110:1, Teks Masoret)

“τῷ Δαυιδ ψαλμός εἶπεν ὁ κύριος τῷ κυρί μου κάθου ἐκ δεξιῶν μου ἕως ἂν θῶ τοὺς ἐχθρούς σου ὑποπόδιον τῶν ποδῶν σου.” (Mazmur 110:1, Septuaginta)

“Psalmus David. Dixit Dominus Domino meo: Sede a dextris meis, donec ponam inimicos tuos scabellum pedum tuorum.” (Mazmur 110:1, Latin Vulgata)

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sejarah Islam | 5 Komentar »

Muhammad dalam kitab suci agama Majusi (Zend Avesta dan Dasatir)

Ditulis oleh qarrobin di/pada Desember 9, 2009

Oleh : Maulana Abdul Haque Vidyarthi (1888-1978)

Zarathustra adalah pembaharu agama dari Persia kuno (dalam istilah Persia Zardust) Istilah modern Agama Majusi (Zoroaster) diadopsi oleh bahasa Yunani dan Latin. Dalam hymne-nya, nampaknya dia seorang nabi, dengan panca-roba antara keyakinan dan keprihatinan, tetapi dengan pegangan teguhnya kepada Tuhan yang dipertahankan dalam mengalami segala perubahan nasib.Ayahnya menyandang titel Spitmed. Dia memperoleh rukyah di usia muda dan berwawan-sabda dengan para malaikat serta Yang Tertinggi. Keyakinannya atas dakwah dan risalahnya yang suci dihembuskan dengan kata-kata:

Sayalah pilihan-Mu sejak awal, segala yang lain saya anggap musuhku. Kepada-Mu saya mengaduh.

Tataplah aku wahai Tuhan, dan berilah saya pertolongan, sebagai seorang kawan yang menghadiahkan kepada kawan yang disayangi. Katakan kepadaku sebenarnya, wahai Tuhan, dengan amal salih manusia yang akan siap diganjar sebelum kehidupan yang terbaik tiba, Yang memelihara bumi di sini di bawah ini sehingga mereka tidak jatuh? Yang membuat air dan tetumbuhan (Yasht 44:3-5).

Zoroastrianisme (Agama Majusi), yang umum dikenal sebagai Parsi-isme adalah agama kuno Persia. Ini adalah agama orang-orang Iran sebelum Islam. Agama ini juga disebut agama penyembah api dan Magianisme. Kitab suci agama kaum Parsi diketemukan dalam dua bahasa Zendi dan Pahlvi. Disamping dua ini, beberapa kepustakaan dalam tulisan Cuneform juga diketemukan. Naskah Pahlvi menyerupai naskah Persia kini, tetapi Zendi dan Cuneform itu berbeda bentuknya. Dalam kitab suci Iran kuno ada dua pembagian penting, satu dikenal sebagai Zend Avesta atau Avesta Zend, dan yang lain adalah Dasatir. Masing-masing dari mereka dibagi lagi dalam dua bagian Khurda Avesta dan Kalan Avesta, juga dikenal Zend dan Maha Zend, Khurda Dasatir dan Kalan Dasatir. Begitu banyak versi yang berbeda-beda di sana, yang mengenai jumlah, bahasa, serta periode wahyu dari kitab-kitab ini tak ada suatupun yang bisa dipastikan (1). Ada sebelas pengucapan nama Zarathustra (Zoroaster) yang berbeda-beda, yang katanya menjadi ketua pengarang kitab-kitab ini. Apa arti nama Zoroaster itu meragukan. Begitu pula tak ada yang secara pasti bisa mengatakan dimana dia itu berasal dan dimana dia dilahirkan (2). Beragam perbedaan ini mendorong beberapa pakar berpendapat bahwa pribadi Zoroaster itu sesungguhnya hanya fiktif dan khayalan.

Dipercayai oleh penganut Majusi bahwa agama mereka berasal dari zaman yang sangat kuno, tetapi banyak orientalis serta pakar peneliti yang tidak setuju dengan pendapat mereka, dan juga telah menunjukkan melalui fakta sejarah bahwa agama ini telah mengambil beberapa kebajikan dari legenda Yahudi serta mitologi Yunani. Penyiaran agama Majusi ini sejak dahulu terbatas hanya di negeri Persia. Namun, tercatat dalam Dasatir, bahwa Shankara Kas dan Vyasaji, dua penguasa India, setelah lama berbincang bisa diyakinkan akan kebenaran agama ini, dan karenanya mulai mengajarkannya di India (Dasatir, Namah Sasan). Begitu pula, kita temukan dalam Zend Avesta Farvardin Yasht bahwa Buddha telah berdebat dengan mereka lalu mengalahkannya, tetapi anekdot ini tidak dapat dibuktikan apakah lalu agama Weda disiarkan di Persia ataukah keyakinan Persia ini disebarkan di India. Tidak ada catatan sejarah bisa diperoleh untuk menunjang teori ini. Hanya ini yang bisa disimpulkan yakni bahwa baik orang Iran maupun India hanya mempunyai titik persinggungan dalam agama masing-masing. Baik  dharma Weda maupun Parsiisme bukanlah suatu agama dakwah dan karenanya mereka hanya terbatas pada perbatasan masing-masing wilayahnya sendiri. Kaum Majusi menganggap dirinya monoteis tetapi orang-orang lain menganggap bahwa mereka itu mempercayai  dua tuhan. Mereka menyebut tuhannya sebagai Ahur mazda. Ahur berarti Tuan dan Mazda bijaksana, jadi nama tuhannya adalah ‘Tuan Yang-bijaksana”.

HUBUNGAN AJARAN ZOROASTER DAN AGAMA LAINNYA.

Bagian awal dari ajaran Zarathustra dikenal sebagai Gatha. Kita juga menemukan sebutan Gatha dalam Weda. (3) Tetapi tidak ada disebutkan Weda serta kitab Hindu lain-lainnya dalam kitab suci agama Majusi. Ini menunjukkan bahwa Gatha itu lebih tua dari Weda. Begitu pula, dalam Weda ada rujukan tentang Purana (Yajusha Purana) yang kenyataannya adalah Yajush sah puranam (yajush datang dari Puran). Yajush ini adalah bagian dari kitab suci parsi Zend Avesta. Dan menurut pendeta Hindu, Purana itu tidak lebih tua dari Weda tetapi Weda lebih tua dari Purana, meskipun aneh juga untuk melihat bahwa Purana yajush ha ada terdapat di Zend Avesta dan bahkan di Weda. Karena itu beberapa pakar menyimpulkan bahwa purana tertentu itu lebih tua daripada Weda.

Suatu bagian yang patut direnungkan dalam ajaran Zoroastrian adalah juga kemiripannya dengan ajaran Alkitab dan al-Quran.Di bawah ini kita berikan beberapa petikan dari persamaan semacam itu.

Penciptaan dari alam semesta ini lengkap dalam enam periode masa. Ahurmazda pertama menciptakan langit, lalu air, kemudian bumi, lantas tanaman, kemudian hewan dan pada akhirnya, Dia ciptakan manusia. Manusia itu dilahirkan sepasang, yang dikenal sebagai Mashya dan Mashyoi (lelaki dan perempuan). Pasangan manusia pertama ini tumbuh selama empat-puluh tahun sebagai tanaman dan kemudian berubah dalam bentuk laki-laki dan wanita. (4) Tuhan mengatakan kepada Yim (Nuh) bahwa suatu badai salju yang ganas akan segera terjadi, yang akan membinasakan para pembuat kejahatan. Nuh kemudian diminta untuk membuat bangunan di bawah tanah dan mengumpulkan di dalamnya sepasang tanaman, binatang, serta manusia. Demikianlah hal itu dilaksanakan, dan kecuali mereka yang terlindung di gua itu, maka semua ciptaan binasa. Yim atau Nuh dinyatakan sebagai nabi pertama yang memberi Syariah, tetapi dinyatakan bahwa dia menurun dalam megajarkan kenabiannya, sehingga karena itu Zarathustra menjadi pemberi hukum yang pertama (Vendidad, 11:4).

AJARAN ZARATHUSTRA DIBENARKAN OLEH NABI SUCI MUHAMMAD

  1. Al-Quran menekankan:
    “Allah (Tuhan) itu Esa (Q.S.112:1). Tetapi Ke-Esaan-Nya bukanlah satu hal yang numerikal. Ini adalah atribut personal dari-Nya. Islam menyatakan Ke-Esa-an mutlak dari Dzat Ilahi dan menjatuhkan pukulan maut terhadap segala bentuk politeisme termasuk tiga dalam satu atau satu dalam tiga (Trinitas) yang adalah numerikal. Ke-Esa-an  Dzat Ilahi dalam Islam berarti tak suatupun yang dapat dibandingkan dengan Dia. Satu dari numerikal itu bisa dibandingkan dengan dua atau tiga atau empat dan dia mempunyai pecahan 1/2,1/3,1/4 dan seterusnya. Ada dua kata Arab yang berbeda yakni ‘wahid’ dan ‘ahad’; wahid untuk satu yang numerikal tetapi ‘ahad’ adalah yang tidak punya pecahan dan tak satupun yang bisa dibandingkan atau paralel dengan-Nya.Zarathustra (Zoroaster) menyatakan:
    ‘Dia adalah Esa tetapi bukannya satu dari bilanagan’ (Nama Shat Vakhshur Zarthusht Dasatir halaman 69).
  2. Al-Quran menekankan: “Tak ada satupun yang menyerupai Dia” (Q.S.112:4). Zoroaster menyatakan: Dia tak punya suatupun yang menyerupaiNya. (Nama Shat Vakhshur Zarthusht Dasatir halaman 69).
  3. Al-Quran menekankan: “Tak ada sesuatu yang seperti Dia” (Q.S. 42:11). Zoroaster menyatakan: Tak suatupun yang mirip dia.(Dasatir halaman 70).
  4. Al-Quran menekankan: “Allah ialah yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Ia tak berputera, dan tak diputerakan” (Q.S.112:2-3).
    Zarathustra menyatakan: Dia tanpa asal atau akhir, tanpa sekutu, musuh, prototip, kawan, ayah, ibu, isteri, putera, tempat tinggal, jasad, atau bentuk, dan tanpa warna serta indera. (Dasatir halaman 71).
  5. Al-Quran menekankan: “Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu menentukan ukurannya”(QS.25:2).
    Zoroaster menyatakan: “Dia memberi kehidupan dan kehadiran dari segala sesuatu”(Dasatir halaman 3).
  6. Al-Quran menekankan: “Penglihatan tak dapat menjangkau Dia, dan Dia menjangkau (semua) penglihatan, dan Dia itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-waspada (Q.S. 6:104) dan hanya dapat dilihat dengan mata ruhani.
    Zarathustra menyatakan: “Tiada mata bisa melihatNya ataupun tenaga fikiran bisa menangkap-Nya.” (Dasatir hal.68).Al-Quran tidak saja membuat pernyataan, melainkan juga memajukan alasannya. Dzat yang meliputi semua penglihatan, dan yang pada saat yang sama adalah Dia yang canggih dalam pemahaman serta tak terbatas. Tuhan tak dapat ditangkap dengan mata fisik. Dia itu  Yang Ghaib. Fakta ini juga dinyatakan dalam dasatir “Katakan ke dunia bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata wadag beberapa mata yang lain diperlukan untuk menangkap-Nya” (Dasatir halaman 107).
  7. Al-Quran menekankan: Materi dan jiwa itu tidak kekal seperti Dia: “Yang menciptakan segala sesuatu, lalu menentukan ukurannya”(Q.S. 25:2).
    “Dia ialah Yang Pertama, dan Yang Terakhir, dan Yang Tersembunyi, dan Ia Yang Maha-mengetahui”(Q.S. 57:3).
    Zarathustra menyatakan: Engkau adalah yang paling Awal, tak suatupun sebelum Engkau” (Dasatir
    hal.66).
  8. Al-Quran menekankan: “Dan kedudukan yang paling luhur di langit dan di bumi adalah kepunyaan Dia” (Q.S. 30:27).
    Zarathustra menyatakan: “Dia itu di atas segala sesuatu yang dapat kaubayangkan” (Dasatir hal.33).
  9. 9. Al-Quran menekankan: “Janganlah putus asa dari rahmat Allah” (Q.S. 39:53).
    Zarathustra menyatakan: “Janganlah kecewa atas kebaikan dan rahmat-Nya” (dasatir halaman 33).
  10. Al-Quran menekankan: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Q.S. 50:16).
    Zarathustra menyatakan: “Kami lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri” (Dasatir hal.122).
  11. Al-Quran menekankan: “Dan tiada yang tahu balatentara Tuhan dikau selain Dia!”(Q.S.74:31).
    Zarathustra menyatakan: “Malaikat itu tiada terbilang” (Dasatir halaman 6).
  12. Al-Quran menekankan: “Dan sesungguhnya ia(Jibril) menurunkan Quran dalam hati engkau dengan izin Allah” (Q.S. 2:97).
    Zarathustra menyatakan: “Tuhan berfirman kepada Adam kata dari Tuhan adalah yang diwahyukan malaikat ke dalam hatimu” (Dasatir hal.37).
  13. Al-Quran menekankan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, mereka memperoleh jamuan taman Firdaus” (Q.S.18:107).
    Zoroaster menyatakan: “Bila seorang dengan amalan yang baik meninggalkan tubuhnya ini maka Aku akan mengirimkan dia ke Surga” (Dasatir halaman 13).
  14. Al-Quran menekankan: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di Taman dan air mancur. Masuklah di sana dengan damai, aman. Dan Kami akan mencabut apa yang ada dalam hati mereka berupa dendam-kesumat (sehingga mereka) seperti saudara, (duduk) di sofa berhadap-hadapan. Di sana mereka tak akan terkena lelah, dan mereka tak akan diusir dari sana”(Q.S. 15:45-48).
    Zoroaster menyatakan: “Para penghuni Surga akan memperoleh melalui kasih-sayang Tuhan, semacam tubuh yang tiada akan lelah ataupun menjadi tua ataupun sesuatu yang kotor, akan bisa msuk ke dalamnya” (Dasatir hal.9). “Mereka akan hidup selamanya dalam tempat tinggal yang penuh kebahagiaan” (Dasatir halaman 13).
  15. Al-Quran menekankan: (Neraka) “Di sana mereka tak akan merasakan kesejukan dan tak (merasakan pula) minuman. Kecuali air mendidih dan air yang keliwat dingin”.(Q.S. 78:24).
    Zoroaster menyatakan: “Penghuni neraka akan tinggal di sana selamanya, mereka akan disiksa baik dengan panas menyengat maupun dingin menggigil” (Dasatir halaman 38).

Disamping itu, kita dapati dalam Dasatir, perintah mengenai sikap kesatria, kesucian perkawinan, menepati janji, larangan terhadap miras, pemotongan rambut terhadap kelahiran anak, membersihkan tubuh dengan mandi, wudhu dan tayammum dan sebagainya.(5)

Tiga macam cara turunnya wahyu Ilahi digambarkan dalam sebuah rukyah di dalam keadaan antara mimpi dan jaga serta waktu sedang terjaga. (Nama Shat Vakhshur Zartusht, 5-7).
Dua jenis perintah (menentukan dan kiasan) (Nama Shat Vakhshur Zartusht, 5-7).
Seorang nabi diperlukan untuk memaksakan hukum semacam itu yang setiap orang harus mematuhinya (Nama Shat Vakhshur Zartusht hal.5). Manusia itu saling bergantung  dan mereka siaga membutuhkan hukum Ilahi yang hisa diterima semuanya, yang dapat mencabut tirani, kebohongan dan buruk-sangka serta memberikan kedamaian dan harmoni ke dunia. Para pembawa syariah ini harus seorang yang mendapat ilham Ilahi sehingga semua orang bisa tunduk kepadanya”.(Nama Shat Vakhshur Zartusht, halaman 45-49).

Menyangkut pengakuan terhadap seorang nabi, Zarathustra berkata:

“Mereka bertanya kepadamu bagaimana mereka bisa mengenali seorang nabi dan mempercayai kebenaran apa yang dikatakannya; mengatakan kepada mereka apa yang diketahuinya yang orang-orang lain tidak tahu, dan dia akan memberitahumu bahkan apa yang tersembunyi dibalik fitrahmu; dia akan bisa menyatakan padamu apa yang kautanyakan dan dia akan memperagakan perkara yang orang lain tak dapat memperagakan” (Ibid halaman 50-54).

Ketika para sahabat Nabi Suci, menyerbu Persia dan berhubungan dengan umat Majusi serta mempelajari ajaran-ajarannya, mereka seketika berkesimpulan bahwa Zarathustra (Zoroaster) itu sungguh seorang Nabi yang menerima wahyu Ilahi. Jadi mereka menyesuaikan perlakuannya kepada umat Majusi sebagai “Ahli Kitab” yang lain. Meskipun nama Zoroaster itu tidak terdapat dalam Quran Suci, tetap dia dianggap sebagai satu dari para nabi yang tidak disebut dalam al-Quran, karena ada suatu ayat dalam Kitab Suci ini yang berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para Utusan sebelum engkau; sebagian mereka ada yang    Kami kisahkan kepada engkau, dan sebagian dari mereka ada yang tak Kami kisahkan kepada    Engkau” (Q.S. 40:78).

Sesuai dengan itu kaum Muslimin memperlakukan pendiri agama Majusi (Zoroastrianisme) sebagai seorang nabi yang benar dan mempercayai agamanya seperti yang telah mereka lakukan kepada kredo samawi yang lain, dan karenanya sesuai dengan nubuatan ini, melindungi agama Majusi. James Darmestar telah sejujurnya mencatat hal ini dalam terjemah Zend Avesta:

“Pada waktu Islam mengasimilasi umat Zoroastrian menjadi Ahli Kitab, ini mengungkap perasaan   sejarah yang jarang terjadi dan memecahkan masalah asal-usul dari Kitab Avesta”(6).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Sejarah Islam | Bertanda: | 14 Komentar »